Featured

Kisah Inspiratif Hamdan: Nelayan Berketerbatasan Fisik yang Tangguh Buat Kapal Kayu di Berau

Bagikan

Berau, Solidaritas – Deru mesin genset sesekali memecah keheningan di pesisir Kampung Teluk Sumbang. Di bawah temaram atap bengkel kerjanya, seorang pria paruh baya tampak sibuk melubangi papan kayu. Menggunakan satu tangan yang tersisa, ia memegang bor listrik dengan presisi. Menancapkan mata bor ke lambung perahu yang belum rampung.
Ia adalah Hamdan. Warga asli Teluk Sumbang yang dikenal gigih dalam berusaha. Di tengah keterbatasan fisik yang dialaminya sebuah kondisi yang kerap kali cenderung dianggap sebagai kelemahan oleh warga sekitar Hamdan membuktikan sebaliknya. Keterbatasan itu sama sekali tidak mematahkan semangatnya untuk terus bekerja keras, baik sebagai nelayan maupun sebagai pembuat kapal kayu.
Bagi Hamdan, setiap papan yang terpasang adalah simbol martabat. Namun, empat bulan terakhir ini, ujian hidup bagi pria tangguh ini terasa jauh lebih berat. Kampung tempatnya tinggal mendadak senyap dan gelap gulita akibat terputusnya arus listrik.
Padamnya listrik bukan sekadar perkara gelapnya malam. Bagi pelaku usaha kecil seperti Pak Hamdan, ini adalah pukulan telak yang melumpuhkan produktivitas. Guna mengoperasikan alat serut listrik dan bor kayu, ia kini harus bergantung penuh pada mesin genset.
“Sekali menyalakan mesin, butuh 3 sampai 5 liter BBM, belum lagi olinya,” ungkap Hamdan.
Hamdan bersama perahu buatannya , Foto Arian
Di wilayah pelosok seperti Teluk Sumbang, harga BBM melonjak drastis hingga menyentuh Rp22.000 per liter. Alhasil, setiap kali ingin memaku dan memotong papan, ia harus merogoh kocek hingga ratusan ribu rupiah hanya untuk bahan bakar. Sebuah angka yang sangat mencekik di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit.
Perahu yang tengah ia bangun bukan sekadar proyek pribadi untuk melaut. Perahu itu adalah pesanan warga yang menaruh kepercayaan besar pada keahlian tangan satu  Hamdan.
Untuk menyiasati biaya operasional yang membubung tinggi, Hamdan harus memutar otak dan mengandalkan keberuntungan di laut. Ketika hasil tangkapan ikannya sedang bagus, ia segera menyisihkan sebagian uang untuk membeli literan BBM. Jika bensin sudah di tangan, barulah suara bising genset kembali terdengar, dan pembuatan perahu bisa dilanjutkan kembali.
Ia bekerja dalam ritme yang tidak pasti, sangat bergantung pada alam dan ketersediaan modal bahan bakar. Namun, semangatnya tidak pernah surut. Ia terus bergerak maju semampunya.
Kisah Hamdan adalah cerminan nyata dari daya resiliensi masyarakat kecil yang kerap terabaikan. Di balik peluh dan keterbatasan fisiknya, ia hanya ingin bekerja, menghidupi keluarga, dan berkarya dengan penuh kehormatan.
Kini, di balik raungan mesin genset yang boros itu, Hamdan menyimpan satu harapan sederhana yang ia gantungkan kepada pemerintah, segeralah nyalakan kembali listrik di Kampung Teluk Sumbang.
Bagi masyarakat pesisir, listrik bukanlah sekadar alat penerang rumah di kala malam. Listrik adalah urat nadi perekonomian, bahan bakar bagi mimpi para pelaku usaha kecil, dan cahaya yang mereka butuhkan untuk bangkit dari keterpurukan.  Hamdan dan warga Teluk Sumbang telah terlalu lama berada dalam gelap, kini saatnya mereka kembali melihat terang. Red

Bagikan

Related Posts