Featured

Nestapa Pemburu Madu Dayak Luangan di Ranah Bongan

Bagikan

Kutai barat, Solidaritas – Wangi tanah basah dan desir angin di rimbunnya hutan Kampung Gerunggu, Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, tidak lagi membawa kabar baik bagi Suku Dayak Luangan.
Musim panen yang dahulu riuh dengan tawa, kini berubah sunyi. Cairan emas manis yang bergelantung di dahan-dahan pohon raksasa kini kian menjadi barang langka.
Eksploitasi hutan atas nama pembangunan perlahan mengusir lebah-lebah liar, menyisakan kecemasan bagi warga yang menggantungkan hidup dari alam.
Bagi masyarakat lokal, memanen madu hutan bukan sekadar perkara mencari uang, melainkan sebuah warisan tradisi leluhur. Dahulu, kepakan sayap ribuan lebah menjadi pertanda kesejahteraan.
Belajar dari kearifan lokal Suku Dayak Luangan, kelestarian hutan adalah kunci kesejahteraan bersama.
Melalui tradisi berburu madu, warga tidak hanya mendapatkan ratusan liter hasil alam tiap musimnya, tetapi juga mempraktikkan sistem pembagian yang adil dan berkeadilan.
Bagi mereka, hutan adalah soko guru ekonomi nyata sebuah sistem pendukung yang menjaga dapur warga tetap mengepul saat hasil ladang sedang tak menentu.
Sekarang, pemandangan komunal penuh suka cita itu perlahan memudar seiring tumbangnya pohon-pohon pelindung tempat lebah bersarang.
Gurat kecewa tidak bisa disembunyikan dari wajah Syahmm Warga Gerunggu kepada media ini Sabtu (30/5/2025)  usai melihat luasan hutan habitat lebah yang terus menyusut.
“Dalam tiga tahun terakhir, hasil madu terus menurun,” ungkap Pak Syahmm, pencari madu yang telah puluhan tahun menjelajahi belantara hutan Bongan.
Bagi warga Gerunggu, sirnanya madu liar adalah alarm bahaya bagi eksistensi mereka. Saat bentang alam dirusak, pengetahuan lokal tentang navigasi hutan, teknik memanjat pohon tinggi, dan mantra penjinak lebah ikut terancam punah.
Mereka tidak hanya kehilangan isi dompet, tetapi juga kehilangan secuil identitas diri sebagai penjaga rimba.
Syahmm mengaku bahwa masyarakat adat pada dasarnya tidak anti terhadap adanya pembangunan.  Namun, mereka ingin agar semangat membangun tidak melupakan atau mengorbankan hak-hak masyarakat lokal yang sudah menetap turun-temurun.
“Pembangunan ekonomi yang mengorbankan hak masyarakat adat merupakan satu kekeliruan besar. Dari itu, diharapkan ada regulasi yang lebih humanis dan berkeadilan lingkungan agar eksploitasi hutan tidak berjalan ugal-ugalan,” jelas Syahmm tegas.
Suara margasatwa di Kampung Gerunggu mungkin kini semakin sayup tertimbun deru mesin modern. Namun, asa warga Suku Dayak Luangan tidak pernah padam, mereka hanya ingin hutan mereka tetap berdiri tegak, agar anak cucu mereka nanti masih bisa mencecap manisnya madu asli bumi borneo. Rian

Bagikan

Related Posts