Samarinda, Solidaritas – Ada duka yang tak sempat terucap di balik pagar seng Jalan KH. Harun Nafsi, Senin (2/2/2026) siang itu. Di bawah terik matahari Samarinda yang sejenak terasa mendingin, Asikin (59) merebahkan tubuhnya untuk selamanya. Bukan di tempat tidur yang nyaman, melainkan di atas aspal keras—tepat di depan pintu yang baru saja menjanjikannya hari esok yang lebih baik.
Asikin adalah potret ribuan pejuang nasib yang menyeberangi lautan demi sepiring nasi. Jauh-jauh dari Semarang, ia membawa sisa tenaganya ke tanah Kalimantan. Selama ini, sudut-sudut masjid menjadi saksi bisu doa-doa malamnya, tempat ia menumpang tidur sambil menggenggam harapan agar segera mendapatkan pekerjaan.
Senin itu seharusnya menjadi hari yang membahagiakan. Asikin baru saja mendapatkan kabar bahwa ia diterima bekerja sebagai buruh harian. Dengan langkah yang mungkin sedikit lebih ringan dari biasanya, ia datang untuk memastikan persiapannya. Ia hanya ingin menjemput barang-barangnya di masjid untuk kemudian pindah ke tempat kerja barunya.
Namun, takdir punya rahasia yang pedih. Sesaat sebelum tangannya mengetuk pintu, Asikin melambaikan tangan ke arah Sandi, seorang saksi mata. “Saya kira dia menyapa,” ujar Sandi pelan. Ternyata, lambaian itu bukan sapaan, melainkan sebuah salam perpisahan yang terakhir. Sebelum sepatah kata pun sempat keluar, sang perantau ambruk. Harapannya luruh bersama tubuhnya yang letih.
Kepergiannya menyisakan kegetiran yang mendalam bagi siapa saja yang mendengar. Ia meninggal dalam keadaan “menjemput rezeki,” namun belum sempat mengecap manisnya upah pertama.
Berdasarkan pemeriksaan Polresta Samarinda, tak ada kekerasan di tubuhnya—hanya kelelahan dan sakit yang mungkin ia pendam sendiri demi terlihat kuat di perantauan.
Kini, jenazahnya terbaring di RSUD Abdul Wahab Sjahranie, menanti kepulangan yang sesungguhnya ke kampung halaman di Jawa Tengah.
Asikin mengajarkan kita bahwa perjuangan hidup seorang ayah atau seorang pria perantau seringkali berakhir dalam kesunyian yang paling tabah. Ia pergi sebagai pahlawan bagi hidupnya sendiri, di ambang pintu harapan yang nyaris ia genggam. Red





