Kota Samarinda

Dua Dekade Menanti, Bank Samarinda Cetak Rekor Laba Tertinggi

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Suasana di Gedung Balai Kota Samarinda pada Kamis lalu terasa berbeda. Ada riak optimisme yang kuat dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT BPR Bank Samarinda. Setelah dua dekade mengarungi pasang surut dunia perbankan daerah, bank milik Pemerintah Kota Samarinda ini akhirnya mengukir sejarah baru dengan membukukan laba bersih sebesar Rp2,74 miliar untuk tahun buku 2025.
Bagi sebuah bank daerah, angka ini bukan sekadar deretan digit di atas kertas laporan keuangan. Ini adalah buah dari kesabaran, kerja keras, dan transformasi besar yang dilakukan di dalam tubuh perusahaan.
Direktur Utama PT BPR Bank Samarinda, Tony Noviandi, tidak bisa menyembunyikan rasa syukurnya saat memaparkan hasil audit Kantor Akuntan Publik (KAP). Semua indikator keuangan, mulai dari aset, penyaluran kredit, hingga Dana Pihak Ketiga (DPK), bergerak naik membentuk tren positif.
“Peningkatan signifikan ini membawa kami meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dan predikat ‘Sangat Sehat’ dengan peringkat komposit 1,” ujar Tony.
Kunci dari lompatan besar ini ternyata ada pada keberanian untuk berubah. Bank Samarinda kini tidak lagi gagap teknologi. Mereka mulai bersolek secara digital demi bisa bersaing di era modern.
Sekarang, nasabah Bank Samarinda bisa melakukan transfer real-time ke seluruh bank di Indonesia. Tak hanya itu, sistem pembayaran digital QRIS kini mulai akrab menghiasi kios-kios pedagang lokal. Kemudahan inilah yang membuat masyarakat Samarinda merasa kian dekat dengan bank mereka sendiri.
“Transformasi digital menjadi langkah penting kami untuk meningkatkan pelayanan dan daya saing,” tambah Tony.
Laba Rp2,74 miliar itu pun langsung dialokasikan secara bijak. Sebesar Rp500 juta disetor langsung untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda. Sementara sisa Rp2,2 miliar digunakan untuk memutihkan beban kerugian masa lalu sekaligus memperkokoh fondasi modal bank. Strategi ini membuat manajemen optimis bahwa tahun depan, langkah Bank Samarinda akan jauh lebih ringan dan menghasilkan laba yang lebih besar.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, yang memimpin langsung jalannya RUPS bersama Wakil Wali Kota Saefuddin Zuhri, menyambut baik prestasi ini. Namun, sebagai pemimpin, ia tetap melempar tantangan kritis, terutama terkait rencana ekspansi bank ke kawasan wisata belanja Citra Niaga.
Andi Harun mengingatkan agar pembukaan Kantor Kas baru di Citra Niaga tidak menjadi beban operasional. Ia bahkan melempar ide yang cukup berani: merelokasi kantor utama ke Citra Niaga dan menjual aset kantor lama jika dirasa sudah tidak representatif.
“Boleh ekspansi, tapi setelah enam bulan berikan laporan perkembangannya,” tegas Andi Harun. “Jika dua mesin (kantor) di Segiri dan Citra Niaga memberikan tren positif, bisa saja nanti (Citra Niaga) bertransformasi menjadi kantor utama.”
Di balik apresiasi tersebut, orang nomor satu di Kota Tepian ini juga menyelipkan pesan penertiban. Ia meminta manajemen bertindak tegas terhadap debitur nakal yang menyebabkan kredit macet (Non-Performing Loan/NPL).
Pelacakan aset milik debitur yang tidak taat aturan akan dilakukan secara menyeluruh. Jika pendekatan kekeluargaan menemui jalan buntu, jalur hukum pidana maupun perdata siap ditempuh demi mengamankan uang rakyat.
Kini, Bank Samarinda punya waktu enam bulan ke depan untuk membuktikan konsistensi performanya kepada para pemegang saham. Dengan modal rapor “Sangat Sehat” dan semangat digitalisasi yang terus digenjot, bank daerah ini siap melangkah lebih jauh dari sekadar tempat menyimpan uang—ia kini menjelma menjadi motor penggerak ekonomi warga Samarinda. Red

Bagikan

Related Posts