Samarinda, Solidaritas- Dunia pendidikan di Kota Samarinda sedang dirundung duka mendalam. Mandala Risky Syahputra, seorang remaja berusia 16 tahun, harus menghembuskan napas terakhirnya di tengah perjuangan menuntut ilmu. Bukan karena kecelakaan besar atau tindak kekerasan, namun sebuah tragedi yang berawal dari hal yang sering dianggap sepele: sepasang sepatu sekolah yang kekecilan.
Mandala adalah anak kedua dari pasangan Nordiansyah dan Rahmawati. Di balik senyum ramahnya di sekolah, ia menyimpan rapat beban kemiskinan yang menghimpit keluarganya.
Setiap hari, siswa kelas XI-2 SMK Negeri 4 Samarinda ini harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer dari rumah kontrakannya di Gang 2, Jalan Ahmad Dahlan, menuju sekolah.
Nahas, sepatu yang ia gunakan sudah tidak lagi muat di kakinya. Selama lima bulan terakhir, Mandala menahan sakit akibat gesekan sepatu yang sempit. Luka kecil di kakinya perlahan menjadi infeksi serius yang merenggut nyatanya pada Jumat dini hari, 24 April lalu.
Meninggalnya Mandala sempat memicu isu miring mengenai adanya pembiaran dari pihak sekolah. Namun, pihak SMK Negeri 4 Samarinda dengan tegas membantah tudingan tersebut.
Hamidah, Wali Kelas Mandala, mengenang almarhum sebagai sosok yang sangat aktif dan ringan tangan. “Mandala anaknya baik, mau bekerja sama di kelas. Terutama kalau ada pemilihan event atau lomba kelas, dia selalu mau mewakili kelas,” kenangnya dengan nada getir.
Menurut Hamidah, sekolah telah melakukan upaya maksimal sejak Mandala dilaporkan sakit pada 1 April lalu. Selain memberikan bantuan biaya pengobatan, sekolah bahkan mengurus tunggakan BPJS almarhum agar bisa mendapatkan penanganan medis yang layak.
“Saat home visit kedua, wajahnya sudah cerah, bersih dan Mandala memohon kepada saya agar bisa masuk sekolah lagi, saat itu saya meminta agar Mandala harus benar benar sehat baru masuk sekolah,” kata Hamidah
Setelah pulang dari rumah Mandala, teman teman sekelas mengusulkan untuk membelikan sepatu untuk mandala agar dia bsia sekolah kembali dan tidak menahan sakit akibat sepatu yang kekecilan.
“Tapi takdir berkata lain, dia sudah berpulang sebelum rencana itu terlaksana,” tambah Hamidah.
Kondisi ekonomi keluarga Mandala yang sangat terbatas membuat pihak sekolah mengambil keputusan cepat saat mendengar kabar duka. Plt Kepala SMKN 4 Samarinda, Fatmawati, mengungkapkan bahwa sekolah mengambil alih seluruh proses fardhu kifayah almarhum.
“Ketika kakaknya memberi tahu bahwa orang tuanya tidak memiliki dana bahkan untuk membeli kain kafan, kami langsung memutuskan ini adalah tanggung jawab kemanusiaan kami. Jenazah disalatkan di sekolah agar menjadi pembelajaran bagi siswa lain tentang nilai kepedulian,” ujar Fatmawati.
Secara medis, kematian Mandala menjadi pengingat betapa bahayanya infeksi luka jika tidak ditangani dengan cepat. dr. Arysia Andhina, Dokter Umum RSUD AW Syahranie, menjelaskan bahwa infeksi dari luka di kaki dapat memicu sepsis.
“Sepsis menyerang sistem organ kita. Gejalanya bisa berupa demam menggigil. Ini bisa berakibat fatal dan menyebabkan kematian, terutama jika penderita memiliki faktor penyerta atau penyakit bawaan,” jelas dr. Arysia.
Kini, Mandala telah tenang di peristirahatan terakhirnya. Namun, kisahnya meninggalkan pesan kuat bagi para pendidik dan pemerintah setempat. Tragedi ini menjadi pengingat bahwa kepekaan sosial terhadap kondisi siswa dari keluarga kurang mampu bukan sekadar opsional, melainkan sebuah keharusan.
Jangan sampai ada lagi “Mandala” lain yang harus bertaruh nyawa hanya karena sepasang sepatu yang sempit dan luka yang tak terkatakan. Red








