Kota Samarinda

Ambisi Andi Harun Mengakhiri “Misteri” Angka di Kota Tepian

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Bagi Wali Kota Samarinda, Andi Harun, selembar kertas berisi data statistik bukanlah sekadar laporan administratif. Di matanya, angka-angka itu adalah navigasi yang menentukan ke mana arah “kapal besar” Kota Samarinda akan berlayar.
Di bawah terik siang di Jalan Dahlia, tepatnya di Ballroom Arutala Bapperida, Rabu (29/4/2026), Andi Harun menegaskan sebuah komitmen besar. Melalui peluncuran Program Desa Cinta Statistik (Cantik), ia ingin memastikan bahwa setiap kebijakan yang keluar dari Balai Kota tak lagi lahir dari sekadar asumsi, melainkan dari fakta lapangan yang presisi.
“Desa Cantik Statistik ini adalah langkah penguatan tata kelola pengambilan keputusan. Kebijakan kita harus berbasis data. Tujuannya sederhana namun krusial: agar program kita tepat sasaran,” tegas Andi Harun.
Lebih lanjut Politisi Gerindra ini mengayakan bahwa penyakit lama birokrasi seringkali terletak pada ego sektoral, di mana satu dinas dan dinas lainnya memiliki data yang berbeda-beda—sebuah kondisi yang disebut sebagai fragmentasi data. Hal inilah yang ingin dikubur dalam-dalam oleh Pemkot Samarinda.
Andi Harun menargetkan penghapusan “sekat-sekat” tersebut melalui implementasi sistem Satu Data Samarinda. Langkah ini merupakan turunan langsung dari amanat Perpres Nomor 39 Tahun 2019 tentang Satu Data Indonesia.
Dengan sistem ini, tidak akan ada lagi perdebatan mengenai perbedaan angka kemiskinan atau jumlah anak stunting antar-instansi. Seluruh data pemerintahan akan dikelola dalam satu wadah yang terintegrasi. Dampaknya? Data tersebut akan menjadi standar tunggal yang bisa digunakan secara seragam, baik oleh pemerintah untuk menyusun anggaran, maupun oleh publik untuk mengawasi kinerja pelayan masyarakat.
Misi besar dari Desa Cantik dan Satu Data Samarinda ini bermuara pada satu titik: efektivitas. Dalam era di mana anggaran harus dikelola dengan sangat efisien, data yang akurat memastikan tidak ada bantuan yang salah alamat dan tidak ada pembangunan yang sia-sia.
Melalui integrasi data yang digarap bersama BPS dan Diskominfo, arah pembangunan Kota Samarinda di masa depan diharapkan menjadi lebih terukur. Bukan lagi sekadar membangun, tapi membangun sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat di tingkat kelurahan.
“Ini adalah upaya kita menjaga agar setiap rupiah dan setiap kebijakan benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan warga,” pungkasnya.
Kini, dengan resminya Program Desa Cantik 2026, kelurahan di Samarinda bukan lagi sekadar pusat administrasi, melainkan lumbung data yang akan menjadi kunci utama transformasi Kota Tepian menuju kota yang lebih cerdas dan transparan. Red

Bagikan

Related Posts