Kota Samarinda

Kisah Pilu Mandala: Pelajar di Samarinda yang Berjuang Melawan Sakit demi Sekolah, Wafat Akibat Sepatu Kekecilan

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Dunia pendidikan di Kota Samarinda tengah diselimuti awan duka yang mendalam. Seorang pelajar kelas 2 SMK, Mandala Rizky Syahputra (16), mengembuskan napas terakhirnya pada Jumat pekan lalu. Bukan karena kecelakaan besar atau penyakit bawaan yang kronis sejak lahir, namun akibat komplikasi kesehatan yang bermula dari hal yang tampak sepele: mengenakan sepatu sekolah yang terlalu sempit.
Sebuah pemandangan kontras terlihat di rumah kontrakan orang tua Mandala di Samarinda. Tepat di hari ketujuh kematiannya, papan ucapan belasungkawa dari Gubernur Kaltim berdiri tegak menutupi jendela depan rumah, mengenang kepergian siswa kelas 11 SMK yang meninggal akibat komplikasi kesehatan tersebut.
Di ruang tengah berukuran 3×4 meter, tumpukan air mineral gelas tersaji bagi para pelayat, menandakan banyaknya warga dan teman-teman sekolah Mandala yang terus berdatangan untuk berbela sungkawa. Di sudut ruangan, dua pasang sepatu hitam telah terbungkus rapi dalam plastik putih, bersisian dengan sepasang sepatu hitam milik Mandala yang tampak bersih, seolah siap untuk kembali digunakan
Sebuah foto usang tahun 2018 terpampang di atas rak sepatu, merekam keceriaan Mandala dan kakaknya saat merayakan Hari Kartini. Kenangan manis itu kini terasa begitu getir, berbanding terbalik dengan kenyataan pahit yang dihadapi keluarga saat ini.
Rahmawati, sang ibu, mengenang putra keduanya itu sebagai sosok yang pendiam namun luar biasa tangguh. Di balik sikap diamnya, Mandala memendam keinginan besar untuk meringankan beban ekonomi keluarga.
Ironisnya, maut bermula dari dedikasi Mandala terhadap pendidikan dan keluarganya. Dengan ukuran kaki 44, Mandala terpaksa setiap hari “menyiksa” kakinya masuk ke dalam sepatu ukuran 40 yang sudah sangat sempit.
Ia tak mengeluh. Baginya, uang hasil magang lebih baik digunakan untuk membayar biaya kontrak rumah daripada membeli sepatu baru.
Keterbatasan ekonomi keluarga memang mencekik. Rahmawati sehari-hari berjualan risoles, sementara sang ayah bekerja sebagai petugas keamanan. Pendapatan mereka seringkali hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Mandala, yang tak ingin merepotkan orang tuanya, terus memaksakan diri. Saat menjalani masa magang yang mengharuskannya berdiri dalam durasi lama, rasa nyeri mulai menjalar dari kaki yang membengkak kemerahan hingga ke punggungnya.
“Mandala itu anak yang kuat. Ia tidak pernah mau dibawa ke rumah sakit dengan alasan tidak sakit. Bahkan saat kakinya bengkak, ia tetap berusaha untuk tetap masuk sekolah,” kenang Rahmawati dengan mata berkaca-kaca.
Infeksi yang awalnya dianggap pegal biasa itu ternyata menyebar pelan namun pasti, memicu komplikasi fatal yang akhirnya merenggut nyawanya.
Keteguhan hati Mandala terlihat hingga saat-saat terakhirnya. Meski guru dan teman-temannya sudah menaruh perhatian, Mandala tetap teguh pada pendiriannya untuk tidak menyusahkan siapapun.
Rahmawati menceritakan bahwa teman-teman sekolah Mandala sempat patungan untuk membelikan sepatu baru. Namun, seolah sudah merasa waktunya tidak lama lagi, Mandala memberikan pesan yang menyayat hati.
“Mak, kayaknya kalau aku dibelikan sepatu lagi sama teman-teman, tidak akan Mandala pakai,” ujar Rahmawati menirukan ucapan putranya.
Sebelum menutup mata untuk selamanya, Mandala menitipkan pesan terakhir agar sang ibu tetap tegar demi adik-adiknya. “Dia minta satu sama Mama, jangan sampai putus asa, Mama harus kuat.”
Tragedi yang menimpa Mandala menjadi potret nyata betapa kemiskinan masih menjadi tembok tinggi bagi anak-anak dalam meraih pendidikan. Nyawa Mandala melayang di tengah perjuangannya memperbaiki nasib keluarga. Red

Bagikan

Related Posts