DPRD Samarinda

Asa Pedagang di Tengah Ketidakpastian, Pasca Kebakaran Pasar Segiri

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Sisa abu kebakaran di kawasan Pasar Segiri mungkin telah mendingin, namun kecemasan di hati puluhan pedagang justru kian membara. Sudah berbulan-bulan berlalu sejak api melalap kawasan tersebut, namun 25 rumah toko (ruko) yang terdampak masih berdiri kokoh dalam keheningan—kosong, telantar, dan seolah terlupakan.
Bagi para pemilik ruko dan pedagang, bangunan yang rusak itu bukan sekadar tumpukan batu bata. Di sanalah urat nadi perekonomian keluarga mereka bertumpu. Kini, mereka terpaksa hidup dalam ruang tunggu ketidakpastian, menanti hasil uji kelayakan struktur bangunan dari tim teknis pemerintah yang tak kunjung keluar.
Kondisi gantung ini memantik perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Samarinda. Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menyuarakan jeritan hati para pedagang yang mulai jenuh berspekulasi.
“Pedagang dan pemilik ruko tentu membutuhkan kejelasan terkait langkah pemerintah ke depan. Jangan sampai mereka terus menunggu tanpa kepastian,” ujar Deni dengan nada tegas, Kamis.
Deni tidak menampik bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah bergerak humanis di awal bencana. Langkah cepat menyediakan lapak semipermanen sebagai “napas buatan” bagi roda ekonomi warga patut diacungi jempol. Namun, baginya, solusi jangka pendek tidak boleh menenggelamkan kewajiban jangka panjang.
Politisi Partai Gerindra ini mendesak agar Pemkot segera membuka kartu dan memaparkan rencana penataan kawasan pasca-kebakaran secara transparan. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak hanya pandai mengeluarkan instruksi sepihak atau larangan tanpa menyodorkan cetak biru (blueprint) penataan yang konkret dan terukur.
“Kami menilai langkah Pemkot sejauh ini sudah mempertimbangkan aspek teknis. Namun, jangan sampai hanya mengarahkan atau melarang tanpa ada perencanaan yang jelas bagi masyarakat,” tambah Deni.
Kini, bola panas ada di tangan pemerintah daerah. Masyarakat Pasar Segiri tidak hanya membutuhkan ketegasan regulasi, melainkan sebuah peta jalan yang jelas: kapan mereka bisa kembali menata puing-puing usaha mereka, atau ke mana langkah kaki mereka harus melangkah selanjutnya demi menyambung hidup di Kota Tepian.
Sementara itu Andi Harun Walikota Samarinda belum lama ini mengatakan bahwa musibah kebakaran yang melanda Pasar Segiri pada akhir Maret lalu tidak hanya meninggalkan puing dan cerita duka namun ini menjadi momentum untuk dijadikan titik balik besar untuk merombak total wajah pasar tradisional terbesar di Kota Tepian .
Pemkot Samarinda kini tengah menggodok konsep blueprint revitalisasi total agar Pasar Segiri terlepas dari citra kumuh, becek, dan semrawut yang selama ini melekat.
“Kami ingin mengubah wajah Pasar Segiri menjadi pusat ekonomi yang bersih, tertata, dan nyaman baik bagi pedagang maupun pembeli,” ujar Andi Harun.

Salah satu poin krusial dalam rencana besar ini adalah penerapan Zonasi Pasar Terintegrasi. Mengakomodasi masukan dari DPRD Kota Samarinda, Pemkot akan melakukan penataan fungsi secara spesifik dan tegas demi kenyamanan bersama.
Ke depan, Pasar Segiri akan difokuskan penuh sebagai pusat pasar basah utama di Samarinda. Sementara itu, untuk komoditas kering seperti konveksi (pakaian) dan pedagang emas, pemerintah akan mendorong pengalihan secara optimal ke Pasar Pagi. Pemisahan karakter dagangan ini diharapkan dapat mengurai kepadatan pengunjung dan menciptakan ekosistem pasar yang lebih rapi.
Lewat cetak biru revitalisasi ini, Pasar Segiri tidak hanya dibangun kembali dari abu keruntuhan, melainkan sedang bertransformasi menjadi ruang publik yang modern, aman, dan memanusiawakan para pelaku ekonomi kecil di Samarinda. (Adv)

Bagikan

Related Posts