DPRD Samarinda

DPRD Samarinda Tanggapi Kelayakan Lapak Baru Pasar Segiri: “Jangan Hanya Simbol, Harus Fungsional”

Bagikan

Samarinda,Solidaritas– Pemulihan Pasar Segiri pascakebakaran hebat yang terjadi pada Maret lalu diklaim rampung hanya dalam waktu satu bulan. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda telah menyelesaikan pembangunan lapak semipermanen menggunakan Dana Tak Terduga (DTT) senilai Rp1,1 miliar sebagai langkah cepat menghidupkan kembali aktivitas ekonomi para pedagang terdampak.

Konstruksi yang dibangun meliputi struktur tiang, atap, sekat hingga lantai cor dengan kombinasi material baja ringan, kayu ulin, dan beton. Namun demikian, DPRD Samarinda menegaskan belum dapat menyimpulkan apakah bangunan tersebut benar-benar layak dan sesuai kebutuhan pedagang.

Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, mengatakan pihaknya hingga kini belum melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan.

“Sampai hari ini Komisi III belum visit ke lapangan. Jadi kami belum melihat langsung bangunan yang dibuat pemerintah kota,” ujar Deni, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, pengecekan lapangan penting dilakukan untuk memastikan penggunaan anggaran DTT sebesar Rp1,1 miliar benar-benar tepat sasaran, baik dari sisi kualitas bangunan maupun fungsiinya bagi para pedagang korban kebakaran.

“Kita ingin memastikan apakah bangunan itu sesuai, layak, dan paling utama fungsional bagi pedagang yang terdampak kebakaran agar bisa kembali beroperasi,” katanya.

Ia menegaskan, langkah cepat Pemkot patut diapresiasi karena pemerintah hadir memberikan solusi sementara bagi para pedagang. Namun ia mengingatkan agar pembangunan tersebut tidak berhenti hanya sebagai penanganan jangka pendek.

“Kita apresiasi pemerintah hadir dan memberikan tempat yang layak bagi pedagang. Tapi jangan berhenti sampai di sini. Penataan pasar harus berkelanjutan,” tegasnya.

Ia juga menjelaskan pentingnya konsep besar penataan pasar tradisional di Samarinda. Menurutnya, setiap pasar sebaiknya memiliki fungsi yang lebih spesifik agar aktivitas perdagangan lebih tertata dan memudahkan masyarakat.

Ia mencontohkan, Pasar Pagi dapat difokuskan sebagai pusat konveksi dan emas, sementara Pasar Segiri diarahkan menjadi sentra pasar basah seperti daging, ayam, dan kebutuhan pokok lainnya.

“Kalau masyarakat mencari kebutuhan basah, mereka langsung tahu ke Pasar Segiri. Kalau mencari konveksi, ke Pasar Pagi. Jadi ada fungsi yang jelas dan terintegrasi,” jelasnya.

Selain itu, DPRD juga masih menunggu penjelasan rinci dari Pemkot terkait rencana revitalisasi jangka panjang Pasar Segiri. Hingga kini, legislatif belum menerima paparan detail mengenai konsep revitalisasi yang dimaksud.

“Kita ingin tahu konsep revitalisasinya seperti apa. Apakah sama seperti Pasar Pagi atau berbeda? Jangan sampai hanya membangun simbol, tapi pedagang tidak terakomodasi dengan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah kondisi efisiensi anggaran saat ini, rencana revitalisasi kemungkinan masih tertahan. Namun DPRD memastikan akan meminta penjelasan detail apabila usulan tersebut masuk dalam pembahasan anggaran mendatang.

“Kita ingin semuanya transparan. Publik harus tahu seperti apa perencanaannya, berapa anggarannya, dan kapan target selesainya. Jangan sampai nanti sudah selesai tapi tidak bisa digunakan,” pungkasnya.


Bagikan

Related Posts