News

“Kalau Tidak Ada Uang, Sederhana Saja”: Suara Tegas Andi Harun di Balik Kemewahan Perpisahan Sekolah

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Bagi sebagian orang, wisuda atau acara perpisahan sekolah di hotel berbintang adalah sebuah kebanggaan. Namun, bagi sebagian orang tua lainnya, undangan rapat perpisahan sering kali terasa seperti “surat tagihan” yang menyesakkan dada.
Di tengah situasi ekonomi yang sedang menantang, keriuhan iuran perpisahan ini sampai juga ke telinga Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
Tanpa basa-basi, Andi Harun langsung memasang badan. Baginya, pendidikan adalah ruang untuk mencerdaskan, bukan ajang yang menambah beban. Pada Selasa (28/4/2026), ia secara resmi mengeluarkan larangan keras terhadap segala bentuk pungutan perpisahan yang memberatkan wali murid di Kota Tepian.
“Saya sudah mulai mendapatkan informasi. Saya sudah perintahkan Inspektorat, TWAP, dan Dinas Pendidikan untuk segera turun dan mengambil langkah tegas,” ujarnya dengan nada yang tidak main-main.
Langkah cepat ini bukan tanpa alasan. Andi Harun menyadari bahwa di balik kemeriahan panggung perpisahan, ada orang tua yang mungkin sedang memutar otak, mencari pinjaman demi melihat anaknya tidak merasa rendah diri karena tidak ikut iuran.
Logika Wali Kota sederhana namun menohok: perpisahan adalah soal kenangan, bukan soal kemewahan.
“Pokoknya tidak boleh ada pungutan, apalagi perpisahan. Kalau tidak ada uang, tidak usah dilakukan. Cukup sederhana saja di sekolah,” tegasnya lagi.
Kalimat ini seolah menjadi pengingat bagi sekolah-sekolah agar kembali ke esensi pendidikan yang membumi.
Ia menekankan bahwa empati seharusnya berada di atas ambisi gaya hidup. Di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit, sekolah diharapkan menjadi instansi yang paling peka terhadap napas dapur para orang tua siswa.
“Kita semua harus peduli terhadap keadaan yang serba sulit. Jangan sampai kegiatan sekolah justru menambah beban orang tua,” pungkasnya menutup pembicaraan.
Kini, bola ada di tangan sekolah-sekolah di Samarinda. Akankah perpisahan tahun ini kembali ke ruang-ruang kelas yang penuh kenangan, atau tetap memaksakan kemegahan di atas pundak orang tua yang sudah cukup terbebani? Satu yang pasti, pengawasan ketat dari Inspektorat kini tengah mengintai mereka yang nekat “bermain” dengan iuran.  Red

Bagikan

Related Posts