Kutai Kartanegara, Solidaritas – Selasa, 28 April 2026, matahari di langit Kutai Kartanegara seolah sedang menunjukkan taringnya. Di bawah terik yang menyengat itu, Yahya, seorang warga Desa Selerong, Kecamatan Sebulu, tampak memacu sepeda motornya menyusuri jalanan sempi di kampungnya. Di sisi kiri motornya, sebuah tabung gas 3 kg—yang akrab disapa “Si Melon”—tergantung pasrah, kosong, dan beradu bunyi dengan besi motor.
Sudah dua pekan terakhir, perjalanan Yahya bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan sebuah misi perburuan yang melelahkan.
“Sudah dua pekan dikabarkan bahwa gas melon sulit didapat. Sekali datang harganya mahal tapi cuma sedikit, itupun banyak warga yang tidak kebagian,” tutur Yahya kepada Solidaritas, sembari menyeka keringat di dahinya.
Bagi Yahya dan warga Selerong lainnya, keberadaan tabung hijau itu kini terasa kian misterius. Kabar kedatangannya di pangkalan selalu dinanti seperti oase, namun seringkali berakhir dengan kekecewaan. Harga yang melambung tak lagi menjadi persoalan utama; masalahnya adalah barangnya yang raib dari peredaran.
Lelah dengan ketidakpastian, Yahya akhirnya menyerah pada keadaan. Ia memutuskan untuk berhenti mengejar bayang-bayang gas melon. Sore itu, bukan tabung isi yang ia bawa pulang, melainkan beberapa bungkus arang dan tumpukan kayu bakar.
Kini, di dapur rumahnya, pemandangan telah berubah. Kompor gas yang bersih dan modern terpaksa “dipensiunkan” sementara. Di hadapannya kini tersaji realita baru: sebuah tungku kayu dan tumpukan arang yang siap dikobarkan.
Bagi Yahya, beralih ke kayu bakar dan arang bukan karena ia tak mampu membeli elpiji. Ini adalah bentuk adaptasi di tengah himpitan keadaan. Meski ia tahu jelaga hitam akan segera menghiasi dinding dapurnya dan membuat alat masaknya berkerak, asap kayu bakar jauh lebih memberikan kepastian.
“Yah, lebih baik menggunakan arang atau kayu bakar meski membuat alat masak menjadi kotor, daripada menunggu yang tidak pasti dan harganya mahal,” tegasnya dengan nada getir.
Menariknya, fenomena “kembali ke masa lalu” ini mulai menjangkiti warga Desa Selerong lainnya. Keberadaan para perajin arang lokal yang banyak dijumpai di desa tersebut kini menjadi penyelamat tak terduga. Warga yang dulu sudah nyaman dengan kemudahan gas, kini ramai-ramai memesan arang dan mencari kayu demi memastikan dapur tetap mengepul.
Kisah Yahya adalah potret kecil dari ironi yang lebih besar. Di sebuah wilayah yang kaya akan sumber daya alam, warganya justru harus berjibaku kembali ke cara-cara tradisional hanya untuk sekadar memasak air atau menyajikan hidangan keluarga.
Saat senja mulai turun di Sebulu, asap mulai membumbung dari dapur-dapur di Desa Selerong. Bukan asap biru dari api kompor gas yang bersih, melainkan asap putih yang pedih di mata dari kayu bakar yang terbakar. Bagi Yahya, asap itu memang pedih, namun setidaknya, asap itu nyata dan ada. Red









