Kutai Kartanegara, Solidaritas –Di ujung Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, di mana riak air Delta Mahakam menjadi pemandangan sehari-hari, sebuah narasi besar tentang pendidikan sedang ditulis. SMP Negeri 6 Desa Sepatin bukan sekadar bangunan sekolah di wilayah pesisir; ia adalah inkubator mimpi yang membuktikan bahwa prestasi tidak mengenal batas geografis.
Meski berdiri di tengah keterbatasan akses wilayah perairan, sekolah ini berhasil mengubah stigma “sekolah pinggiran” menjadi sekolah berdaya saing global. Prestasi yang ditorehkan para guru dan siswanya kini bergema hingga ke tingkat nasional dan internasional.
Naila Faza Kamila, Guru Penggerak di SMPN 6 Sepatin, percaya bahwa api prestasi siswa hanya bisa menyala jika obor di tangan gurunya menyala lebih terang. Baginya, kemajuan pendidikan di Desa Sepatin berakar pada satu prinsip sederhana: keteladanan.
“Berprestasi bisa aktif kalau gurunya aktif terlebih dahulu. Karena itu kami terus berupaya memotivasi dan melatih guru agar memiliki kompetensi yang baik untuk ditularkan kepada siswa,” ujar Naila dengan penuh semangat,beberapa waktu lalu.
Strategi ini terbukti ampuh. SMPN 6 Sepatin kini bukan lagi sekadar nama di peta, melainkan pusat prestasi pendidik di Kalimantan Timur.
Kisah inspiratif datang dari Nurul Fitriana. Guru SMPN 6 Sepatin ini berhasil menembus seleksi ketat untuk mengikuti program studi singkat di Amerika Serikat selama lima bulan. Keberangkatan Nurul ke Negeri Paman Sam menjadi simbol bahwa kualitas pendidik dari Delta Mahakam mampu bersaing di level tertinggi.
Tak sendirian, rekan sejawatnya, Tata Irawati, juga mengukir jejak internasional. Ia terpilih sebagai finalis dalam dialog bidang bahasa dan sastra se-Asia Tenggara. Pencapaian ini menegaskan bahwa guru-guru di Sepatin memiliki wawasan global meski mengabdi di pelosok.
“Kami ingin membuktikan bahwa guru di daerah pesisir juga bisa tampil di level global,” tegas Naila.
Inspirasi dari para guru itu langsung menyerap ke jiwa para siswa. Di bidang seni, nama SMPN 6 Sepatin harum di ajang Tushar Non-Less dan Nature for All yang diselenggarakan oleh Wildlife Foundation. Dalam kompetisi menggambar dan melukis bertaraf internasional tersebut, karya tangan anak-anak pesisir ini mendapat pengakuan dunia.
Prestasi akademik pun tak kalah mentereng. Di bidang Matematika, siswa SMPN 6 Sepatin sukses melaju ke Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat provinsi, membawa nama harum Kabupaten Kutai Kartanegara. Mereka membuktikan bahwa logika dan kecerdasan anak-anak pesisir setajam anak-anak di kota besar.
Keberhasilan ini bukanlah kerja keras sepihak. Naila menekankan pentingnya ekosistem yang mendukung, mulai dari pihak sekolah, pemerintah desa, hingga orang tua siswa. Melalui Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sekolah ini meruntuhkan dinding pembatas antara ruang kelas dan kehidupan sosial masyarakat.
Anak-anak diajak terlibat dalam proyek sosial dan lingkungan, belajar langsung dari alam dan kearifan lokal Desa Sepatin. “Kami percaya, pembelajaran tidak hanya di dalam kelas. Di luar sana, mereka belajar nilai, karakter, dan keterampilan hidup yang sesungguhnya,” jelas Naila.
Kini, SMPN 6 Desa Sepatin berdiri tegak sebagai simbol kebangkitan pendidikan pesisir di Kutai Kartanegara. Dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada, semangat juang para pendidik dan siswanya menjadi bukti otentik bahwa kemauan keras mampu melampaui segala rintangan fisik.
“Melalui semangat guru dan dukungan masyarakat, kami ingin menjadikan SMPN 6 Sepatin sebagai sekolah inspiratif dan berdaya saing, bukan hanya di Kukar, tapi juga di Indonesia,” pungkas Naila.
Dari tepian Mahakam, SMPN 6 Sepatin telah mengirimkan pesan kuat ke seluruh negeri: bahwa pendidikan berkualitas adalah hak setiap anak, dan prestasi adalah milik siapa saja yang berani bermimpi—bahkan dari sebuah desa di pesisir jauh. Red









