Kutai Kartanegara, Solidaritas – Udara pagi di Desa Selerong Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kartaengara belum sepenuhnya hangat. Namun, Susan sudah harus bergelut dengan adonan tepung dan minyak goreng. Saban hari, wanita ini menggantungkan hidup dari sisa-sisa keuntungan berjualan gorengan.
Sebuah gerobak kayu berukuran 1,5 x 1 meter menjadi panggung perjuangan Susan hari itu. Di atas permukaan kayunya yang mulai kusam, berjejer rapi aneka kue titipan para tetangga yang menggantungkan nasib pada langkah kakinya. Dengan kedua tangan yang mulai mengeras oleh kerja, Susan mendorong beban itu perlahan, membelah keheningan Desa Selerong hingga berjalan berkilo-kilometer melintasi batas desa tetangga.
Namun belakangan ini, senyum Susan kian getir. Kehidupan rakyat kecil terasa semakin sulit. Ekonomi mereka seperti koyak tak bersisa. Harga sembako terus merangkak naik, berkejaran dengan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang kian melambung.
Bagi orang kota, kenaikan BBM non-subsidi mungkin hanya angka di papan SPBU. Namun bagi Susan, dampaknya merembet sampai ke dapur desa.
Ia bercerita, ongkos angkut barang kini naik ugal-ugalan. Para sopir logistik sekarang memasukkan “biaya antre BBM” ke dalam tarif angkut. Akibatnya jelas, harga bahan pokok di pasar lokal ikut terkerek naik.
Kondisi ini membuat Susan didera kebingungan akut. Roda usahanya kini seperti bergerak di atas seutas tali yang rapuh.
“Saat ini kehidupan semakin sulit,” keluh Susan dengan tatapan kosong. “Kita mau jual harga makanan murah, kami pedagang dan pembuat kue yang rugi. Tapi kalau kami jual mahal, warga tidak ada yang beli. Ujung-ujungnya, kami juga yang rugi.”
Dilema itu bukan cuma milik Susan. Ini adalah potret jeritan massal para pembuat kue rumahan di pelosok desa. Mereka terjebak di tengah lingkaran setan: modal membengkak, sementara daya beli tetangga sekitar sudah mencapai titik nadir.
Kepada siapa lagi rakyat kecil harus berharap?
Dari gerobak inilah, Susan hanya bisa menggantungkan asa pada pembuat kebijakan. Ia sangat berharap pemerintah mau mengevaluasi kembali harga BBM non-subsidi yang ada saat ini.
Sebab di lapangan, mahal atau langkanya BBM non-subsidi membuat mobil-mobil besar ikut mengantre di jalur subsidi. Antrean mengular, pasokan tersendat, dan rakyat kecil yang berada di ujung rantai ekonomi kembali menjadi korban yang paling berdarah-darah.
Bagi Susan dan jutaan pelaku usaha mikro lainnya, harga BBM bukan sekadar urusan makroekonomi. Ini adalah urusan tentang apakah esok hari asap dapur mereka masih bisa mengepul atau tidak. Arian









