Samarinda, Solidaritas – Harapan warga Samarinda untuk melihat kawasan Sempaja bebas dari kepungan banjir kini menemukan titik terang. Di balik riuh rencana pembangunan outlet kolam retensi di Jalan M. Yamin, Kelurahan Sempaja, sebuah kepastian hukum akhirnya muncul ke permukaan, menepis kekhawatiran yang sempat membayangi proyek vital ini.
Ketua Tim Wali Kota Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Saparudin, membawa kabar baik setelah melakukan penelusuran mendalam. Isu mengenai tumpang tindih kepemilikan lahan yang sempat mencuat, dipastikan tidak terbukti. Langkah cepat diambil dengan mempertemukan data lapangan dan catatan aset di Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Samarinda.
“Kami tidak ingin melangkah di atas keraguan. Setelah pengecekan langsung dan rapat bersama BPKAD, lokasi yang diduga memiliki sertifikat ternyata berada di titik yang berbeda. Secara substansi, lahan untuk outlet kolam retensi ini bersih dari tumpang tindih,” ujar Saparudin saat ditemui di Balai Kota Samarinda, Senin (26/1).
Meski lampu hijau sudah menyala, Pemerintah Kota Samarinda tidak ingin gegabah. Saparudin menegaskan bahwa prinsip kehati-hatian tetap menjadi garda terdepan. BPKAD diminta kembali turun ke lapangan untuk menyisir setiap jengkal titik lokasi secara detail. Hal ini dilakukan guna memastikan bahwa di masa depan, tidak ada celah hukum yang dapat mengganggu fungsi kolam retensi tersebut.
Saat ini, denyut pembangunan tengah menunggu satu tahapan krusial: hasil penilaian dari Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Begitu angka penilaian rampung dan administrasi pertanahan diselesaikan, Bidang Sumber Daya Air (SDA) akan langsung tancap gas memulai konstruksi outlet Sempaja Lestari.
Di balik urusan birokrasi dan legalitas, dukungan moral dari masyarakat sekitar menjadi bahan bakar utama bagi pemerintah. Saparudin menyebutkan, warga setempat telah menyatakan persetujuannya. Mereka menyadari bahwa jalur kolam retensi ini adalah jawaban atas doa-doa mereka saat hujan deras mengguyur dan air mulai naik ke pemukiman.
“Warga sudah setuju dan mendukung penuh. Ini adalah modal sosial yang besar. Insyaallah, jika semua proses administrasi berjalan sesuai rencana, pembangunan ini akan segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” pungkasnya dengan optimis.
Kini, warga Sempaja tinggal menunggu waktu hingga alat berat mulai bekerja, mengubah lahan kosong di Jalan M. Yamin menjadi benteng pertahanan kota dalam mengendalikan debit air. Sebuah langkah akselerasi yang tak hanya mengejar kecepatan, tapi juga ketepatan.








