News

Menembus Batas Samudra, Kisah Hamdan, Nelayan Satu Tangan Penjaga Bagan Apung Teluk Sumbang

Bagikan

Berau, Solidaritas – Pagi belum sepenuhnya benderang di Kampung Teluk Sumbang. Ombak Selat Makassar berkejaran menghantam tiang-tiang kayu bagan apung yang berdiri kokoh di tengah laut. Di atas struktur terapung itulah, tampak seorang pria paruh baya sedang bertaruh nasib dengan alam. Ia adalah Hamdan, seorang nelayan penyandang disabilitas fisik yang hanya memiliki satu tangan.
Keterbatasan fisik nyatanya sama sekali tidak menyurutkan langkah bapak empat anak ini. Ujian hidup seolah enggan beranjak dari pundak Hamdan,  ia kini tidak lagi memiliki perahu mesin sendiri. Perahu andalannya hanyut tak bersisa dihantam bencana alam air bah di muara Sungai Sumbang beberapa waktu lalu.
Kini, demi menghidupi keluarganya, Hamdan terpaksa harus meminjam perahu mesin milik tetangga atau kerabatnya yang sedang menganggur. Jika sedang tidak ada perahu yang bisa dipinjam, tekad bajanya mengalahkan segalanya.
Tanpa ragu, Hamdan akan mendayung perahu kayu manualnya dengan satu tangan, menembus jarak sekitar 2 kilometer dari bibir pantai demi menjangkau bagan terapung miliknya.
Ketika nelayan lain membutuhkan dua tangan yang kokoh untuk mengamankan tangkapan dan mengemudikan kapal, Hamdan membuktikan bahwa tekad yang kuat jauh lebih berkuasa daripada keterbatasan fisik.
Baru-baru ini, Solidaritas News berkesempatan ikut melaut dan merekam langsung keseharian Hamdan. Menembus jarak ratusan meter hingga kilometer dari bibir pantai Teluk Sumbang, kamera Solidaritas menangkap setiap detail perjuangan luar biasa di atas bagan apung milik pria tangguh ini.
Berada di atas bagan apung yang terus bergoyang dihantam ombak Selat Makassar bukanlah perkara mudah. Bagi kru Solidaritas yang ikut mendampingi, menjaga keseimbangan adalah sebuah tantangan besar. Namun bagi Hamdan, tempat itu adalah medan pembuktian martabatnya sebagai pelaut sejati.
Lensa kamera merekam momen magis saat Hamdan mengontrol tali rumpon (rompon) penarik ikan yang terikat pada struktur bagan. Menggunakan satu tangan yang ia miliki, gerakan Hamdan terlihat begitu terlatih dan cekatan.
Bahkan tanpa ragu, bapak empat anak ini menyelam hingga kedalaman belasan meter untuk memastikan tali jangkar yang tebal mampu menahan beban arus bawah laut, dan membetulkan ikatan jalinan tali dengan ritme yang stabil.
Di dalam kegelapan dan tekanan air laut, dengan hanya mengandalkan satu tangan, ia menaklukkan alam demi memastikan rumah bagi para ikan itu tetap aman.
Saat kembali ke permukaan, tidak tampak guratan mengeluh di wajahnya. Yang ada hanyalah konsentrasi penuh dan dedikasi luar biasa pada pekerjaan yang menghidupi keluarganya.
“Fisik boleh terbatas, tetapi tanggung jawab untuk menghidupi keluarga dan merawat bagan ini tidak boleh lepas,” tutur Hamdan hangat.
Aktivitas konsisten Hamdan di tengah laut ini kerap menjadi pemandangan yang mengundang decak kagum dari sesama nelayan maupun pelancong yang berkunjung ke kawasan wisata Biduk-Biduk.
Di mata warga Kampung Teluk Sumbang, Hamdan bukan sekadar nelayan biasa; ia adalah simbol kemandirian yang tidak pernah mau menggantungkan hidup dari belas kasihan orang lain. Ia membuktikan bahwa keterbatasan tubuh tidak otomatis mematikan produktivitas jika dibarengi dengan mental baja.
Melalui rekaman perjalanan ini, Solidaritas menangkap sebuah pesan sunyi namun bergaung kuat dari tengah laut Berau, bahwa di tangan orang yang tepat, keterbatasan justru bertransformasi menjadi sebuah inspirasi tanpa batas.
Lewat dedikasinya mengurus bagan apung dan merawat jalinan tali rumpon dari hari ke hari, pria dengan satu tangan ini mengirimkan pesan kuat ke daratan: bahwa keterbatasan fisik tidak akan pernah bisa membelenggu manusia yang memiliki mental baja dan semangat pantang menyerah. (Arian)

Bagikan

Related Posts