Kutai Kartanegara, Solidaritas, Untuk pemenuhan program pemerintah dalam hal ketersediaan, keamanan, dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat. Pemerintah Desa Sergihan Kutai Kartanegara mengalokasikan 20 persen dana desa untuk program ketahanan pangan.
Program ini bertujuan untuk menjamin akses pangan yang cukup dan berkualitas, mendukung pemberdayaan pelaku usaha di sektor pangan seperti petani, peternak, pembudidaya ikan, nelayan, dan pelaku usaha sektor pangan lainnya di Desa serta mengoptimalkan potensi ekonomi Desa dalam program dan kegiatan ketahanan pangan.
Kepala Desa Segihan, Hendra Wahyudi kepada media senin (3/3/2025) mengatakan bahwa Ketahanan Pangan adalah terwujudnya kedaulatan pangan masyarakat melalui ketersediaan (produksi dan cadangan pangan), keterjangkauan, konsumsi pangan dan gizi serta keamanan pangan berbasis bahan baku, sumber daya dan kearifan lokal.
Saat ini lanjut Hendra Pemdes Sergihan telah menyiapkan luas wilayah seluas 3.000 hektare, dan ini berpotensi besar dalam sektor pertanian. Untuk itu Pemerintah Desa mengalokasikan 20 persen atau sekitar 600 juta dari Dana Desa untuk pembibitan, pupuk, dan kebutuhan pertanian lainnya.
Semua ini dikelola melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), yang juga bertugas menampung hasil panen dan mengurus pemasarannya. Keberadaan BUMDes sangat penting untuk membantu petani dalam menjual hasil pertanian dengan harga yang lebih stabil.
“Alhamdulillah, BUMDes kami berjalan dengan baik. Pendapatan Asli Desa (PAD) dari BUMDes saat ini sudah mencapai sekitar Rp6 juta per tahun setelah dikurangi biaya operasional, harapannya bisa terus meningkat ke depannya,” Kata Hendra.
“Dari sektor pertanian sebagai utama yang kami prioritaskan. Dari sini kami memastikan warga desa memiliki akses yang baik terhadap sarana dan prasarana pertanian, sehingga hasil panen semakin meningkat dan kesejahteraan petani terjamin,” jelasnya.
Selain mengembangkan budidaya, Pemerintah Desa Segihan juga berfokus pada pembangunan infrastruktur pendukung pertanian, seperti irigasi, embung, drainase, dan jalan pertanian.
Hendra mengaku bersyukur untuk infrastruktur jalan desa sudah sangat baik dengan adanya program pemerintah Kabupaten Kukar yang terus memperbaiki koneksivitas antar desa yang dampaknya adalah produktivitas para petani saat ini yang terus meningkat.
“Saat ini kami memprioritaskan pembangunan infrastruktur yang mendukung pertanian. Irigasi juga menjadi perhatian utama, agar ketersediaan air bagi lahan pertanian tetap terjaga,” tambahnya.
Salah satu program unggulan yang kini tengah berjalan adalah pengembangan petani milenial. Pemerintah Desa Segihan memiliki sekitar 12 petani muda yang aktif di berbagai bidang pertanian, terutama budidaya perikanan dengan sistem bioplog.
Namun, pendekatan yang diterapkan di Segihan sedikit berbeda. Pemerintah desa tidak langsung mendorong mereka untuk terjun ke jual beli hasil panen, melainkan membentuk mereka menjadi kelompok petani yang solid.
“Ada sarana pembelajaran agar mereka memahami seluruh proses budidaya bioplog, mulai dari persiapan, pemeliharaan, hingga panen yang berlangsung setiap 3–4 bulan. Kami membiayai proses ini agar mereka benar-benar siap dan nantinya bisa menjadi mentor atau pendamping masyarakat dalam program ‘Satu Rumah Satu Bioplog’,” tutupnya. ADV/Diskominfo Kukar/Sr









