Balikpapan, Solidaritas – Di tengah bayang-bayang ancaman kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino, langit di atas Ibu Kota Nusantara (IKN) dan wilayah Kalimantan Timur bersiap menyambut “hujan buatan”. Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Dhomber kini menyiagakan penuh seluruh kekuatannya demi memuluskan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kolaboratif tersebut.
Operasi ini bukan sekadar urusan menerbangkan pesawat, melainkan sebuah seni memanipulasi cuaca secara terukur. Sederhananya, para petugas di lapangan memiliki misi khusus untuk berburu awan-awan potensial di atmosfer yang memenuhi kriteria tertentu.
Setelah target awan ditemukan, tim akan melakukan proses penyemaian (cloud seeding) untuk merangsang dan memperkuat proses pembentukan hujan sebelum awan tersebut buyar terbawa angin.
Kesiapan operasi ini dimatangkan dalam sebuah briefing koordinasi erat di Baseops Lanud Dhomber pada Jumat (21/8/2026). Sinergi lintas instansi ini mempertemukan unsur TNI Angkatan Udara, Otorita IKN, serta jajaran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat.
Danlanud Dhomber, Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana, menekankan bahwa menyamakan persepsi antarpemangku kepentingan adalah harga mati. Langkah ini krusial demi memastikan misi berjalan akurat sekaligus menjaga keselamatan penerbangan.
“Briefing koordinasi ini penting untuk menyamakan persepsi seluruh unsur yang terlibat, mulai dari pelaksanaan operasi, kondisi cuaca, wilayah sasaran, mekanisme penerbangan hingga aspek keselamatan,” ujar Kolonel Pnb I Gusti Ngurah Sorga Laksana.
Sebagai ujung tombak di angkasa, satu unit pesawat Cassa NC-212 milik TNI AU dengan nomor ekor A-2105 telah disiagakan di landasan pacu. Burung besi ini tidak akan terbang dengan tangan kosong; ia mengemban misi membawa muatan logistik berupa delapan ton garam Natrium Klorida (NaCl) murni yang siap disemprotkan ke jantung awan.
Usai koordinasi di dalam ruangan, Danlanud Dhomber bersama perwakilan BMKG dan Otorita IKN—termasuk Staf Khusus Kepala Otorita IKN Bidang Manajemen dan Konstruksi, Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga, M.Eng.Sc.—turun langsung ke lapangan. Mereka memeriksa kesiapan fisik pesawat pembawa garam serta tumpukan logistik NaCl yang akan digunakan.
Namun, eksekusi penyemaian tidak akan dilakukan secara asal. Jadwal terbang pesawat sepenuhnya bergantung pada instruksi ilmiah dari radar cuaca.
“Pelaksanaan OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Karena itu, hasil analisis cuaca dan potensi pertumbuhan awan menjadi dasar dalam menentukan pelaksanaan penyemaian,” jelas Koordinator Lapangan OMC dari BMKG Pusat, Bayu Ihsanul Hak.
Langkah proaktif melakukan modifikasi cuaca ini menjadi tameng penting dalam memitigasi dampak kekeringan ekstrem di wilayah Kalimantan Timur, khususnya di kawasan IKN yang saat ini sedang gencar dalam tahap pembangunan infrastruktur masif.
Melalui pemanfaatan teknologi modern dan kolaborasi kuat antarinstansi, pemerintah berharap pasokan air di bumi etam tetap terjaga meski didera kemarau panjang.
“Harapannya, pelaksanaan OMC ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam menghadapi potensi kekeringan di wilayah IKN dan Kalimantan Timur, tentunya dengan tetap mengutamakan keselamatan dan berdasarkan rekomendasi ilmiah dari BMKG,” pungkas Danlanud Dhomber optimis. Red








