Kutai Timur, Solidaritas – Pulau Miang, sebuah permata tersembunyi di sisi utara Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, mendadak riuh oleh semangat nasionalisme yang membara. Di pulau yang terkenal dengan keindahan panorama bawah lautnya ini, sebuah aksi heroik berlangsung tepat pada perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Sejumlah elemen masyarakat bersinergi menembus batas ombak demi mengibarkan Sang Saka Merah Putih langsung dari dasar laut. Tepat pukul 07.00 WITA, momen sakral itu terjadi. Di bawah permukaan air yang jernih, bendera Merah Putih perlahan berkibar, menyatu dengan keindahan alam bawah laut Kutai Timur.
Aksi spektakuler ini diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kalimantan Timur yang menggandeng Komunitas Penyelam Yekhalis, akademisi Universitas Mulawarman, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pulau Miang, serta jurnalis media setempat. Selain menjadi bentuk perayaan kemerdekaan, kolaborasi ini dirancang sebagai momentum emas untuk mempromosikan potensi wisata bahari Pulau Miang ke kancah nasional.
Melaksanakan upacara bendera di dalam air bukanlah perkara mudah. Cuaca ekstrem yang dipicu dampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) serta aktivitas tektonik di Sulawesi memicu gelombang tinggi dan angin kencang di sekitar lokasi penyelaman. Namun, tantangan alam tersebut tidak menyurutkan mental para penyelam.
Upacara bawah air ini dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Kaltim, Muhammad Faisal, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara sekaligus membacakan teks Proklamasi. Dalam menjalankan tugasnya, Inspektur Upacara didampingi oleh Miftahul Yanuar selaku Ajudan Inspektur.
Sementara itu, tanggung jawab memimpin pergerakan formasi di bawah air diserahkan kepada Auliansyah yang bertindak sebagai Komandan Upacara. Di bawah komandonya, tim penyelam tangguh dituntut fokus penuh saat turun ke kedalaman delapan meter untuk menuntaskan misi.
Detik-detik pengibaran bendera berjalan sangat menegangkan namun penuh khidmat. Tugas krusial membawa Sang Saka Merah Putih di dalam air dipercayakan kepada Desy Novianti selaku Pembawa Bendera.

Selanjutnya, prosesi penarikan bendera di tiang bawah air dilakukan dengan kompak oleh dua penyelam, yaitu Muchlis Efendi dan Jarot DM Arizona.
Koordinator Yekhalis, Ancha, mengungkapkan bahwa jalannya prosesi pengibaran membutuhkan konsentrasi dan keahlian tinggi akibat kondisi alam yang kurang bersahabat.
“Hari ini kita menyelam dengan delapan tim. Suasana di bawah, tepatnya di kedalaman 8 meter, cukup berarus deras. Namun, proses penarikan bendera dari kedalaman 8 meter menuju posisi 2 meter berjalan dengan sangat baik. Bendera akhirnya mampu berkibar dengan sempurna. Kendala utama kami memang arus deras bawah laut dan permukaan yang berombak besar,” papar Ancha antusias setelah kembali ke permukaan.
Kekhidmatan upacara ini juga berkat kedisiplinan para peserta upacara yang ikut menyelam dan membentuk formasi di dasar laut. Mereka adalah Miftahul Raihan, Suyanto Subingat, Suriyatman, Rifki Maulana, dan Fajar Nugraha.
Pulau Miang sendiri dikenal sebagai habitat yang luar biasa dan kerap disinggahi oleh kawanan hiu tutul (hiu paus). Sayangnya, akibat gelombang besar yang mengaduk perairan, biota eksotis tersebut memilih tetap tinggal di palung terdalam selama upacara berlangsung.
Meski kemunculan hiu tutul yang dinanti-nantikan tidak terjadi akibat faktor cuaca, esensi dari kegiatan ini tetap tersampaikan dengan kuat. Muhammad Faisal menegaskan bahwa agenda ini murni bergerak atas dasar cinta tanah air dan promosi daerah, bukan sekadar mencari sensasi visual.
“Seperti yang saya katakan kemarin, kita ini bukan gaya-gayaan. Kita ingin mempromosikan Pulau Miang secara luas. Untuk menggugah rasa nasionalisme publik, kita harus menciptakan sesuatu yang berkesan, dan momen Agustusan ini adalah waktu yang sangat tepat,” ujar Faisal.

Ia menambahkan bahwa pihak panitia sejak awal sudah memperhitungkan segala risiko cuaca buruk yang terjadi.
“Kami pantau sejak pagi, ditambah efek sekunder dari gempa Sulawesi kemarin, gelombangnya memang sangat besar. Kondisi itu membuat hiu tutul tidak mau naik ke permukaan. Apa boleh buat, risiko itu sudah kami antisipasi. Karena itu, kami tetap konsisten melaksanakan upacara bendera di titik yang biasanya menjadi lokasi kemunculan hiu paus tersebut,” tambahnya.
Tak hanya membawa misi nasionalisme, aksi ini juga dibalut dengan misi lingkungan yang nyata. Seusai mengibarkan bendera Merah Putih, para peserta upacara menyempatkan diri untuk melakukan transplantasi terumbu karang di sekitar lokasi upacara.
Langkah konservasi ini dilakukan dengan harapan ekosistem bawah laut Pulau Miang tetap lestari dan terjaga dengan baik. Dengan terumbu karang yang sehat, daya tarik wisata bahari di Kutai Timur diharapkan akan semakin kuat dan mampu menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara di masa depan.
Meski dihadang oleh tantangan alam yang berat, sinergi dan semangat kebersamaan yang kokoh berhasil membawa Merah Putih berkibar gagah dari dasar laut Kutai Timur. Sebuah kado ulang tahun yang indah untuk Republik Indonesia dari ujung utara Kalimantan Timur. Red









