Kutai Kartanegara, Solidaritas – Ada yang berbeda dari persiapan pesta adat Erau Adat Kutai 2026 tahun ini. Pesta budaya tahunan yang menjadi kebanggaan masyarakat Kutai Kartanegara (Kukar) tersebut kini resmi menembus kalender bergengsi nasional, Kharisma Event Nusantara (KEN), garapan Kementerian Pariwisata.
Status baru ini membawa konsekuensi besar, Erau tidak lagi dikelola sebagai agenda seremonial biasa, melainkan bertransformasi mengikuti standar regulasi nasional dengan mutu yang jauh lebih tinggi.
Komitmen besar tersebut ditegaskan langsung oleh Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dalam rapat koordinasi final di Sekretariat Panitia Erau, eks Gedung Wanita, Tenggarong, Selasa (15/9/2026)..
Di hadapan jajaran penting daerah—termasuk Kepala Disdikbud Kukar Heriansyah, Plt Kepala Dinas Pariwisata Awang Agus Darmawan, serta Plt Kepala Dinas Kominfo Solihin—Bupati Aulia mengingatkan esensi terdalam dari perhelatan akbar ini.
“Erau ini sudah masuk dalam Kharisma Event Nusantara (KEN), sehingga standar daripada pelaksanaannya akan mengikuti standar yang sudah ditetapkan Kementerian Pariwisata. Ini bukan seremonial belaka. Ada nilai sakral, ada value yang harus kita jaga dan kita lestarikan,” ungkap Bupati Aulia penuh penekanan.
Demi menjawab ekspektasi tinggi dari kementerian sekaligus menjaga kesucian adat di tengah gempuran modernisasi, Pemkab Kukar merumuskan empat pilar standar utama yang wajib ditegakkan tanpa tawar-menawar di lapangan.
Lebih lanjut bupati mengingatkan bahwa panitia kini memikul tanggung jawab besar untuk menjaga estetika kota. Seluruh rangkaian acara Erau ditargetkan bersih secara total, memastikan tidak ada pemandangan tumpukan sampah yang tertinggal di setiap titik keramaian festival.
Selain itu keselamatan pengunjung menjadi prioritas utama, penyelenggara diwajibkan menyusun dokumen mitigasi risiko yang matang untuk mengantisipasi segala bentuk kedaruratan atau potensi bencana selama festival berlangsung.
Alur festival didesain sedemikian rupa agar tidak hanya menjadi panggung tontonan visual, melainkan juga memberikan dampak ekonomi nyata yang langsung mendongkrak omzet para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.
Bersiap menyambut keindahan budaya yang mendunia, seluruh pusat informasi, publikasi, hingga panduan acara wajib disajikan dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, untuk memudahkan para turis mancanegara.
Langkah besar ini tentu tidak bisa dikerjakan oleh segelintir orang saja. Guna memastikan seluruh pilar modern ini berjalan selaras dengan akar tradisi, Bupati Aulia menginstruksikan adanya kolaborasi erat secara sejajar.
Mulai dari pihak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, perangkat daerah, hingga seluruh camat se-Kukar kini bergerak bersama untuk memantik partisipasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Red









