Kutai Kartanegara, Solidaritas – Kemarau panjang yang tengah melanda wilayah Kalimantan Timur membawa cerita tersendiri bagi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Mahakam.
Debit air sungai legendaris ini menyusut drastis hingga menyisakan hamparan pasir dan batuan yang biasanya tenggelam di dasar air yang dalam. Namun, alih-alih meratap, pemandangan gersang ini justru memicu riuh harapan baru bagi sebagian warga.
Mereka berbondong-bondong turun ke dasar sungai, membawa kuali kayu dan sekop, demi mengais butiran emas yang tersembunyi.
Bagi masyarakat Desa Embalut, Kecamatan Tenggarong Seberang, fenomena alam ini seperti memutar kembali memori kolektif mereka pada krisis kemarau panjang tahun 1997 silam.
Kala itu, keringnya Mahakam memicu eksodus ribuan warga yang tumpah ruah ke dasar sungai untuk mendulang logam mulia. Kini, seolah sejarah berulang, pemandangan serupa kembali hidup. sejak pagi buta, puluhan warga sudah bersiap memilah material sungai demi menyambung hidup.
Beralih profesi menjadi pendulang dadakan menjadi pilihan rasional bagi banyak warga yang sektor pertaniannya lumpuh total. Salah satunya adalah Imron, warga Teluk Dalam, Tenggarong Seberang.
Sawah yang menjadi tumpuan hidupnya kini retak-retak akibat kekeringan parah dan tidak bisa diolah sama sekali. Bersama empat orang tetangganya, Imron memilih mengadu nasib di aliran Mahakam yang mengering.

“Kalimantan kan memangnya itu yang memang kayaknya ada. Kami di sawah petani, tinggal di L 4. Belum ada (penghasilan lain), ini aja kawan ini dapat,” ujar Imron sembari menunjukkan harapan pada butiran-butiran kecil logam mulia yang berhasil ditemukan rekannya.
Meski hasil yang didapat tidak menentu—kadang hanya beberapa miligram saja dalam sehari—semangat warga tidak surut selama debit air sungai masih rendah.
Fenomena ini tentu mengundang perhatian pihak setempat. Ketua RT 02, Halinawati, mengaku berada di posisi dilematis. Di satu sisi, ada kekhawatiran besar mengenai faktor keselamatan warganya yang beraktivitas di dasar sungai.
Di sisi lain, ia tidak bisa melarang karena hal ini menyangkut urusan perut dan dapur warga yang terdampak kemarau.
Halinawati juga menjadi saksi hidup bagaimana Sungai Mahakam sejak dulu memang dikenal menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, terutama saat dilanda kekeringan hebat.
“Kalau yang dulu gak tahu yah, tapi di tahun 1997 itu ibaratnya saya ikut mengalami juga. Dulu tahun 1997 itu tapi yah efeknya, efek Mahakam juga surut yah,” kenang Halinawati saat membandingkan situasi saat ini dengan peristiwa puluhan tahun lalu.
Secara makro, penurunan drastis debit air Sungai Mahakam sebenarnya menjadi pukulan berat bagi jalur transportasi logistik serta sektor agraris di Kalimantan Timur. Jalur transportasi air terhambat, dan ladang-ladang warga kekurangan pasokan air.
Namun bagi warga Embalut, surutnya sungai ini justru menjadi berkah tersembunyi. Di tengah mandeknya sektor pertanian, dasar Sungai Mahakam yang mengering menjelma menjadi ladang mata pencaharian alternatif.
Kini, selagi hujan belum turun mengguyur bumi Etam, warga hanya bisa berharap debit air tidak naik secara mendadak, agar mereka bisa terus mengais rezeki dan bertahan hidup di bawah terik kemarau. Red









