Samarinda, Solidaritas – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) kian meluas akibat dipicu cuaca panas dan kekeringan ekstrem. Berdasarkan data terbaru per Jumat, 11 September 2026, tercatat lebih dari 5.031 hektare lahan hangus terbakar dengan sebaran 1.136 titik api (hotspot) yang mengepung 10 kabupaten dan kota se-Kaltim.
Dari seluruh wilayah terdampak, Kabupaten Paser menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 287 titik api. Sementara itu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mencatatkan diri sebagai daerah dengan luasan kebakaran paling parah, dengan area yang hangus mencapai 1.704,75 hektare. Posisi terparah berikutnya disusul oleh Kabupaten Paser seluas 951 hektare dan Kabupaten Kutai Barat sejauh 942 hektare.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengungkapkan bahwa mayoritas wilayah yang terbakar didominasi oleh lahan mineral. Karakteristik lahan ini memicu tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Meski api di permukaan sempat padam, bara api di bawah tanah kerap menyala kembali dan memicu kebakaran baru.
Kemunculan titik api baru dilaporkan terjadi di kawasan Desa Saliki, Kabupaten Kutai Kartanegara. Lokasi kebakaran ini sangat krusial karena berada di dekat objek vital nasional, yaitu jaringan pipa gas milik Pertamina. Selain itu, titik api juga berkobar di sepanjang jalur poros Balikpapan-Samarinda. Petugas gabungan saat ini bersiaga ketat di lokasi untuk mencegah lidah api melompati pembatas jalan dan merembet ke kawasan hutan lindung.
Guna memaksimalkan upaya pemadaman, BPBD Kaltim telah mendapat dukungan helikopter water bombing dari pemerintah pusat. Saat ini, terdapat dua unit helikopter yang dikerahkan secara intensif.
Satu unit helikopter difokuskan khusus untuk menjaga pertahanan udara dan memitigasi kebakaran di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) Nusantara. Sementara itu, satu unit helikopter lainnya dikerahkan untuk melakukan pengeboman air di wilayah Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara.
Masyarakat Kaltim diimbau untuk tidak lengah. Berdasarkan prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau panjang diprediksi masih akan melanda wilayah Kaltim hingga akhir Oktober mendatang.
Kepala BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menegaskan bahwa adanya hujan ringan di beberapa lokasi akhir-akhir ini bukanlah tanda berakhirnya musim kemarau.
“Walaupun ini ada hujan di beberapa lokasi, dan titik api beberapa hari itu turun, tetapi informasi dari BMKG bahwa ini kita masih di musim kekeringan. Hujan yang ada kemarin itu bonus. Karena teman BMKG tadi menyatakan jangan-jangan musim kering ini sudah berakhir? Belum. Kita masih kemungkinan sampai dengan Oktober, atau mungkin sampai Oktober akhir, hingga hujan itu kembali normal,” ujar Buyung Dodi Gunawan saat memberikan keterangan.
Hingga saat ini, Tim Satuan Tugas (Satgas) Karhutla Kaltim terus disiagakan penuh di sejumlah titik rawan. Patroli dan pemantauan berkala terus ditingkatkan demi mengantisipasi sekaligus memutus rantai kemunculan titik api baru. Red








