Samarinda, Solidaritas – Pemerintah Kota Samarinda kini telah berhasil menata ulang kawasan Citra Niaga, sebuah pusat perbelanjaan ikonik yang pernah menjadi kebanggaan warga Kota Tepian pada era 1980-an hingga 1990-an.
Pada masa kejayaannya, Citra Niaga dikenal sebagai kawasan modern revolusioner karya arsitek Antonio Ismael yang sukses menggabungkan konsep pasar tradisional dan modern secara harmonis.
Saking fenomenalnya, penataan kawasan ini bahkan sukses menyabet penghargaan internasional bergengsi, Aga Khan Award for Architecture (AKAA) pada tahun 1989, dengan menyisihkan kandidat kuat lainnya seperti Bandara Soekarno-Hatta.
Langkah revitalisasi yang dilakukan Pemkot saat ini dirancang untuk menghidupkan kembali pesona historis tersebut ke dalam konsep City Walk yang lebih modern.
Namun, seiring dengan kembali ramainya kawasan wisata belanja ini, muncul tantangan baru berupa kesemrawutan lalu lintas akibat kendaraan pengunjung yang memadati bahu jalan.
Kemacetan dan penyempitan jalan ini dinilai mengganggu estetika kawasan serta menghambat akses ke pertokoan. Merespons kendala tersebut, DPRD Kota Samarinda mendorong pemanfaatan bekas gedung Plaza 21 untuk dialihfungsikan menjadi kantong parkir terpadu.
Fasilitas vertikal ini diproyeksikan mampu menampung puluhan hingga ratusan kendaraan sehingga area City Walk Citra Niaga benar-benar steril dari parkir liar.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Jasno, menyampaikan usulan tersebut pada Jumat (11/9/2026). Ia berkaca pada kesuksesan penataan kawasan Malioboro di Yogyakarta yang berhasil memindahkan seluruh kendaraan pengunjung ke gedung parkir khusus.
“Kita mendorong Plaza 21 itu dimanfaatkan menjadi kantong parkir, supaya kendaraan tidak lagi parkir di sepanjang jalan Citra Niaga,” ungkap Jasno.
Kendati demikian, rencana ini masih menunggu kajian teknis mendalam dari Pemkot Samarinda untuk menguji kelayakan struktur bangunan lama Plaza 21 demi menjamin keamanan dan keselamatan publik. Red









