DPRD Samarinda

Efisiensi Anggaran Menghadang, Komitmen Penurunan Stunting Samarinda Harus Tetap Teguh

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Di tengah deru pembangunan infrastruktur dan ketatnya ikat pinggang keuangan daerah, ada sebuah investasi tak kasatmata yang tidak boleh diabaikan: masa depan anak-anak Kota Tepian.

Ketika kebijakan efisiensi anggaran mulai membayangi kinerja berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), sebuah alarm pengingat berbunyi nyaring dari gedung parlemen. Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda diminta untuk tetap teguh dan tidak mengendurkan komitmen dalam menurunkan angka stunting.

Bagi Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi, keterbatasan fiskal daerah sama sekali bukan alasan untuk menurunkan mutu layanan kesehatan dasar. Di balik angka-angka rasionalisasi anggaran, ada pertaruhan besar mengenai kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Samarinda di masa depan.
Ismail tidak menampik bahwa kebijakan penghematan anggaran yang bergulir saat ini membawa dampak yang cukup signifikan di lapangan. Banyak keluhan dan masukan dari OPD yang masuk ke mejanya terkait beratnya menjalankan program kerja dengan dana yang terbatas.
“Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah dalam menjalankan berbagai program, terutama yang berkaitan langsung dengan persoalan sosial dan kesehatan masyarakat,” ujar Ismail di Samarinda.
Namun, bagi legislator ini, kondisi sulit justru harus menjadi momentum emas. Keterbatasan dana wajib dijawab dengan kecermatan menyusun skala prioritas. Sektor kesehatan dan pendidikan adalah pelayanan dasar yang sifatnya mutlak. Oleh karena itu, penghematan semestinya menyasar pada pos internal birokrasi, bukan mengorbankan kualitas pelayanan publik primer.
“Pelayanan yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat tetap harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh mengalami penurunan kualitas sedikit pun,” tegasnya.
Stunting bukanlah persoalan statistik yang bisa ditunda penyelesaiannya hingga kondisi keuangan daerah membaik. Efeknya bersifat jangka panjang. Penundaan program intervensi gizi bagi ibu hamil, pendampingan keluarga, hingga pencegahan dini pada anak, dinilai akan langsung mengancam target penurunan prevalensi stunting di Samarinda.
Ismail mengingatkan bahwa membebaskan anak-anak Samarinda dari ancaman stunting adalah kerja besar yang tidak bisa digendong oleh Pemkot sendirian. Ini adalah kerja kemanusiaan yang membutuhkan jabat tangan erat dari semua pihak.
Kolaborasi dan sinergi antara DPRD, perangkat daerah, tenaga kesehatan di garda terdepan, hingga kesadaran aktif di tingkat rumah tangga adalah kunci utama untuk memenangkan pertempuran melawan stunting ini.
“Dengan sinergi yang kuat, pengelolaan anggaran yang lebih efektif, serta penentuan prioritas yang tepat, kami optimistis upaya menciptakan generasi Samarinda yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting tetap dapat diwujudkan meski di tengah keterbatasan fiskal,” pungkas Ismail optimis. (Adv)

Bagikan

Related Posts