Samarinda, Solidaritas- Sebuah semangat kolaborasi baru lahir dari pertemuan intens antara wakil rakyat dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Samarinda.
Kedua lembaga ini sepakat untuk mengedepankan komunikasi persuasif sebagai instrumen utama dalam meredam potensi konflik dan menyelesaikan berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
Konflik dan gesekan sosial di perkotaan sering kali bersumber dari sumbatan komunikasi. Menyadari hal tersebut, DPRD dan FKUB Samarinda berkomitmen membangun jembatan dialog yang lebih intim dan menyentuh akar rumput. Melalui pendekatan yang humanis dan persuasif, setiap potensi kesalahpahaman antarwarga akan diselesaikan di meja diskusi, bukan di jalanan.
Gestur senyum hangat dan jabat tangan erat mewarnai Ruang Kerja Ketua DPRD Kota Samarinda pada Senin (29/6/2026) kemarin. Momen ini menandai kedatangan pengurus baru Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Samarinda yang kini dinakhodai Syaparuddin. Mereka hadir membawa misi penting, memperkuat kembali rajutan toleransi di Kota Tepian.
Pertemuan ini bukan sekadar formalitas birokrasi, melainkan ruang hangat untuk memperkenalkan wajah-wajah baru penjaga kedamaian kota sekaligus menyelaraskan langkah ke depan.
Mitra Penjaga Kedamaian Kota
Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, menyambut kehadiran mereka dengan tangan terbuka. Baginya, FKUB bukan sekadar organisasi biasa, melainkan pilar strategis yang berdiri di garda terdepan dalam menjaga keharmonisan di tengah keberagaman warga Samarinda.
“FKUB tadi menyampaikan bahwa mereka siap apabila memang diperlukan oleh DPRD, baik menyangkut persoalan agama, budaya, perizinan rumah ibadah, maupun persoalan lain yang berkaitan dengan kerukunan,” ujar Helmi dengan nada optimis.
FKUB lanjut politisi Gerindra ini cukup kredibel karena diisi oleh tokoh-tokoh lintas agama menjadi garda terdepan untuk merangkul masyarakat secara langsung saat terjadi riak-riak sosial.
DPRD Kota Samarinda menegaskan bahwa ruang kolaborasi ini tidak akan pernah tertutup demi kepentingan warga. Sinergi yang kuat antara legislatif dan pemuka agama ini dirancang untuk menjadi benteng kokoh yang menjaga stabilitas daerah.
Menurut Helmi, salah satu misi utama FKUB adalah menjaga hubungan harmonis antarumat beragama agar tetap tercipta suasana yang aman dan kondusif di Kota Samarinda.
“Tujuan mereka adalah bagaimana semua umat beragama di Samarinda tetap hidup rukun walaupun berbeda-beda keyakinan, sehingga kondusivitas daerah ini tetap terjaga dan masyarakat merasa aman,” jelasnya.
Selain membahas program FKUB, audiensi juga dimanfaatkan untuk membangun komunikasi yang lebih erat dengan DPRD. Helmi menegaskan pihaknya membuka ruang kolaborasi apabila di kemudian hari muncul persoalan yang berkaitan dengan kehidupan beragama, budaya, maupun sengketa sosial di masyarakat.
“Kami tentu menyambut baik kedatangan FKUB. Ke depan kami berharap sinergi ini terus berjalan sehingga ketika ada persoalan yang membutuhkan peran FKUB, kita bisa bersama-sama mencari solusi terbaik bagi masyarakat,” tegasnya.
Kehadiran negara dan tokoh agama yang kompak diyakini mampu menangkal isu-isu sensitif yang dapat memecah belah persatuan.
Komitmen bersama ini membawa satu harapan besar: menjadikan Samarinda sebagai rumah yang aman, teduh, dan kondusif bagi siapa saja. Keberagaman keyakinan tidak lagi dilihat sebagai pemisah, melainkan sebagai fondasi kuat untuk bergotong-royong membangun kota yang harmonis. Adv