News

Desa sebagai Lumbung Air dan Pangan, Jangan Diubah Menjadi Kota

Bagikan

Catatan Misman 
penerima Kalpataru Kategori Perintis 2023

Dunia hari ini sedang cemas membicarakan tiga hal,  air, pangan, dan energi. Di tengah ancaman krisis global, kita sering lupa bahwa jawaban dari kecemasan itu tidak ada di gedung-gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan megah di perkotaan. Kunci keberlanjutan hidup kita justru berada di tanah berlumpur, gemercik air sungai, dan rimbunnya pepohonan di pedesaan.
Desa adalah lumbung kehidupan. Memaksakan desa untuk bersolek dan berubah wujud menjadi kota bukanlah sebuah kemajuan, melainkan sebuah kekeliruan fatal yang sedang kita pupuk bersama.
Alam tidak bekerja secara terpisah. Gunung, bukit, lembah, rawa, sawah, hingga laut adalah satu kesatuan ekosistem yang saling mengikat. Ketika sebuah rawa di desa diuruk untuk dijadikan ruko, atau bukit dikupas demi perumahan, kita sedang menghancurkan daya dukung lingkungan secara permanen.
Efek domino dari alih fungsi lahan ini sangat nyata: serapan air berkurang, mata air mengering, dan produksi pangan merosot. Desa dan kota seharusnya berada dalam hubungan simbiosis mutualisme yang sehat—desa sebagai penyedia, kota sebagai pengguna. Jika penyedianya dihancurkan, maka pengguna di kota hanya tinggal menunggu waktu untuk ikut tumbang.
Sering kali kita terjebak dalam bias berpikir bahwa kemajuan sebuah wilayah diukur dari seberapa mirip wilayah tersebut dengan kota. Memang benar, arus urbanisasi terjadi karena kota menawarkan fasilitas hidup yang lebih menjanjikan. Namun, solusi untuk menahan laju urbanisasi bukanlah dengan mengubah bentang alam desa menjadi hutan beton.
Yang dibutuhkan oleh masyarakat desa adalah keadilan fasilitas, bukan perubahan identitas. Desa membutuhkan akses jalan yang layak agar hasil panen tidak membusuk di jalan. Desa memerlukan sekolah yang bermutu agar anak-anaknya cerdas, puskesmas yang siaga, jaringan listrik yang stabil, serta koneksi internet untuk membuka wawasan dunia.
Masa depan ketahanan pangan dan air kita bergantung pada bagaimana kita memperlakukan desa hari ini. Pembangunan sejati di pedesaan adalah memadukan penyediaan sarana prasarana modern dengan peningkatan kualitas sumber daya manusianya.
Kita bisa membuat petani desa melek teknologi tanpa harus menggusur sawahnya. Kita bisa membuat pemuda desa makmur secara ekonomi tanpa harus menyuruh mereka merantau ke kota. Mari kita biarkan kota sibuk dengan urusan jasa dan perdagangannya, namun biarkan desa tetap anggun dan lestari sebagai benteng pertahanan terakhir bagi air dan pangan kita.
Jangan biarkan lumbung hidup kita runtuh hanya demi ambisi pembangunan yang semu.

Bagikan

Related Posts