Samarinda, Solidaritas – Lamin Adat di Desa Budaya Pampang, Samarinda, kembali bersiap menjadi saksi bisu kemegahan tradisi yang tak lekang oleh waktu. Mulai Kamis (25/6) hingga Minggu (28/6) nanti, suara dentingan sampek yang magis dan hentakan kaki para penari akan memenuhi udara.
Kekayaan budaya masyarakat Dayak Kenyah bersiap unjuk gigi dalam gelaran akbar Festival Budaya Dayak Kenyah 2026.
Bukan sekadar agenda tahunan, festival ini adalah sebuah ruang pembuktian. Di tengah riuhnya arus modernisasi, masyarakat adat Dayak Kenyah memilih untuk merawat ingatan, memperkuat sektor pariwisata, dan menghidupkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal Kalimantan Timur.
Anggota DPRD Kota Samarinda yang juga Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kalimantan Timur, Viktor Yuan mengatakan bahwa festivalAdat Dayak Kenyah adalah salah satu upaya untuk melestarikan dan menjaga budaya adat dayak Kenyah sebagai warisan adat dan daya pariwisata tarik kota Samarinda.
Viktor Yuan juga mengatakan bahwa festival Adat dayak Kenyah bukan hanya sebagai panggung hiburan biasa, melainkan tameng untuk menjaga identitas bangsa.
Dengan penuh penekanan, Viktor menegaskan, “Budaya harus terus dijaga dan diwariskan.”
Pada kesempatan itu politisi partai Demokrat ini juga menaruh harapan besar pada pundak generasi muda. Di matanya, budaya bukanlah benda mati yang dipajang di museum, melainkan karakter hidup yang harus mengalir di darah generasi penerus.
Melalui festival ini, anak-anak muda diajak pulang kembali ke akar sejarah, mengenali filosofi hidup, dan mencintai nilai-nilai adat mereka sendiri.
Festival budaya ini nantinya akan berlangsung selama empat hari penuh, harapannya masyarakat bisa datang ke Desa Budaya Pampang, yang selama ini menjadi magnet wisata unggulan Samarinda.
Kelincahan para penari tradisional Dayak Kenyah, pameran benda adat penuh sejarah, atraksi seni yang memukau, hingga keseruan permainan rakyat yang mulai langka. Tak ketinggalan, aroma pekat kuliner khas Dayak siap memanjakan lidah para petualang rasa.
Salah satu yang paling dinanti adalah fashion show busana adat. Lembar-lembar kain yang dihiasi manik-manik rumit dan motif khas Dayak Kenyah akan diperagakan, memamerkan keindahan visual yang bernilai estetika tinggi.
Panggung ini sekaligus menjadi berkah bagi para pelaku ekonomi kreatif lokal untuk memamerkan produk-produk buatan tangan mereka.
“Ini momentum yang harus terus di jaga untuk memperkenalkan budaya kita kepada dunia,” jelas Viktor.
Ketika festival ini berakhir nanti, harapannya tidak ada yang menguap sia-sia. Denyut ekonomi warga sekitar diharapkan ikut berputar kencang seiring datangnya pelancong.
Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 pada akhirnya adalah sebuah pesan kuat dari Samarinda: bahwa maju menuju masa depan tidak berarti harus melupakan masa lalu.
Di bawah atap Lamin Adat Pampang, warisan leluhur itu dipastikan akan tetap abadi. Red








