Kota Samarinda

Kebakaran di Jalan Datu Iba Samarinda Seberang Hanguskan Dua Rumah dan Satu Bangsalan

Bagikan

Samarinda, Solidaritas –  Suasana  sore yang tenang di kawasan Samarinda Seberang mendadak berubah menjadi mencekam pada Senin (15/6/2026). Sekitar pukul 16.00 WITA, kepulan asap hitam pekat membumbung tinggi ke angkasa, menjadi penanda kelam atas musibah kebakaran hebat yang melanda permukiman padat penduduk di Jalan Datu Iba.
Amukan si jago merah melalap dua wilayah sekaligus, yakni Gang Bhineka 1 RT 06 dan Gang Keluarga RT 05, Kelurahan Sungai Keledang. Dalam waktu singkat, dua unit rumah tunggal dan satu bangunan bangsalan empat pintu ludes menjadi arang.
Dominasi bangunan berbahan kayu tua yang kering di kawasan tersebut menjadi bahan bakar utama yang membuat api dengan cepat merembet dari satu dinding ke dinding lainnya.
Menanggapi situasi darurat ini, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar) Kota Samarinda langsung bergerak cepat setelah menerima laporan resmi pada pukul 15.55 WITA.
Empat unit mobil pemadam kebakaran dari Posko Utama, Posko V, dan dukungan Posko IX langsung diterjunkan, dibantu oleh puluhan relawan tangguh Samarinda. Namun, menjinakkan api di kawasan padat penduduk bukanlah perkara mudah.
Sejumlah kendaraan pemadam kebakaran harus tertahan dengan padatnya kendaraan yang saat itu bertepatan dengan waktu pulang jam kantor. selain itu lokasi kejadian yang jauh dari titik air sehingga beberapa petugas pemadam kebakaran terpaksa masuk kedalam parit untuk mencari sumber air untuk pemadaman.
“Kendala di lapangan tadi adalah akses jalan yang macet dan kondisi air yang agak susah di sekitar lokasi. Ditambah lagi mayoritas bangunan adalah rumah kayu, sehingga api sangat cepat membesar,” urai Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Disdamkar Samarinda, Akhmad Supriyanto.
Akhmad juga meluruskan spekulasi yang sempat beredar di masyarakat mengenai pekatnya warna asap. Ia menegaskan bahwa tidak ada indikasi penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) atau bensin di lokasi tersebut.
“Asap hitam pekat itu murni karena material yang terbakar adalah rumah kayu tua yang kering, jadi penyebaran apinya cepat dan menghasilkan asap tebal,” tegasnya.
Berkat bahu-membahu antara petugas dan relawan, amukan api akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya dalam waktu sekitar 45 menit. Pihak kepolisian saat ini masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti munculnya titik api.
Sementara itu, para korban yang kini kehilangan tempat tinggal terpaksa mengungsi ke rumah kerabat terdekat, menata kembali sisa-sisa harapan pasca-bencana.
Sementara itu duka mendalam dialami Hana (32) korban yang mengaku saat kejadian berada tempat kerja, namun ia bersyukur anaknya bisa keluar dari rumah dengan selamat.
“Awalnya saya diantar suami kerja, tidak lama suami pergi kerja juga. Jadi anak saya sendirian di rumah. Tiba-tiba anak saya lihat ada api, dia langsung lari keluar ke rumah neneknya sambil bilang rumah kebakaran,” tutur Hana dengan mata berkaca-kaca di lokasi kejadian.
Hana sempat tidak percaya dengan kabar yang menerpanya. Namun, begitu melayangkan pandangan ke arah langit samarinda dari kejauhan, hatinya langsung mencelos melihat kepulan asap hitam.
“Pas saya lihat dari jauh, astaga, ternyata benar rumah saya. Sama sekali tidak ada barang yang sempat diselamatkan, semua habis ludes,” ucapnya lirih. Meski harus merelakan seluruh harta bendanya, Hana bersyukur anak tercintanya selamat tanpa luka sedikit pun. Red

Bagikan

Related Posts