Samarinda, Solidaritas – Di tengah riuhnya jagat maya pasca-unjuk rasa “Aksi Damai 215” yang bergulir pada Kamis (21/5) lalu, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, memilih menanggapi badai informasi tersebut dengan kepala dingin.
Pria yang telah mencecap asam garam panggung politik selama tiga dekade ini secara tegas menepis narasi yang mencoba menyeret namanya ke dalam pusaran demonstrasi penolakan terhadap Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud.
Kehebohan ini bermula dari potongan video pendek yang viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, terdengar sayup-sayup satu atau dua peserta aksi meneriakkan nama sang Wali Kota. Bagi mata yang jeli, ada kejanggalan yang terasa di balik dinamika lapangan tersebut.
“Saat dicermati, sepertinya memang ada orang yang sadar dan sengaja mengatur pertanyaan kepada peserta aksi mengenai nama saya,” ujar Andi Harun saat berbincang hangat di Samarinda belum lama ini.
Andi Harun melihat riak-riak kecil ini bukan sebagai aspirasi murni, melainkan sebuah desain dari oknum penyusup yang ingin memancing di air keruh. Ada upaya sistematis untuk menggiring opini publik, seolah-olah sedang terjadi keretakan hubungan antara dirinya dengan orang nomor satu di Benua Etam.
“Patut diduga ini sengaja ingin mengadu domba saya dengan Pak Gubernur,” jelasnya dengan nada tenang namun tegas.
Baginya, konten-konten yang mencoba membelokkan narasi tersebut tidak hanya mengada-ada, tetapi juga mencederai kaidah jurnalisme profesional. Dengan rumus politik yang sederhana, ia mengajak publik melihat persoalan ini secara jernih.
“Kalau hal ini terjadi pada saya, tentu cara menganalisisnya sederhana, mencari siapa yang paling diuntungkan,” tambahnya. Ia memastikan, dirinya sama sekali tidak memetik keuntungan apa pun dari kegaduhan politik yang coba diciptakan ini.
Alih-alih terprovokasi, Andi Harun memilih menjaga komitmen profesionalisme yang telah ia bangun selama 30 tahun di dunia politik. Ia menegaskan tidak akan pernah menggunakan cara-cara yang tidak intelek dan tidak adil demi meraih panggung kekuasaan.
Hubungan kerja, komunikasi, dan sinergi pembangunan daerah antara dirinya dan Gubernur Rudy Mas’ud pun dipastikan tetap berjalan sangat harmonis.
Sebagai pemimpin, ia tetap menaruh hormat pada kebebasan berpendapat yang dimiliki oleh masyarakat. Namun, ia menitipkan sebuah pesan mendalam agar setiap aspirasi yang disuarakan di jalanan jangan sampai merusak fondasi kenyamanan kota.
“Saya mengimbau penyampaian aspirasi tidak boleh mengganggu persatuan dan suasana kondusif daerah, karena itu adalah pondasi utama dalam menjalankan roda pemerintahan,” pungkasnya penuh harap.
Di ujung hari, bagi Andi Harun, stabilitas Samarinda dan kesejahteraan Kaltim jauh lebih berharga daripada menanggapi rumor yang berhembus di layar kaca ponsel.Red








