Samarinda, Solidaritas – Kalimantan Timur tidak hanya tumbuh sebagai pusat ekonomi baru, tetapi juga sebagai rumah bagi peradaban yang kaya dan penuh warna. Menyadari aset berharga ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim bergerak memperkuat identitas wilayahnya melalui konsep tiga pilar kebudayaan yang unik: pedalaman, keraton, dan pesisir.
“Keragaman budaya Kalimantan Timur bertumpu pada kebudayaan suku pedalaman, tradisi keraton, dan masyarakat pesisir,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kaltim, Sih Sudiyono, saat berbincang di Samarinda, belum lama ini.
Menjelajahi kebudayaan Kaltim seperti membaca buku sejarah yang hidup. Di wilayah pedalaman, denyut nadi kehidupan diwakili oleh tradisi luhur Suku Dayak yang hidup berdampingan secara harmonis dengan hutan.
Keindahan ini terpancar jelas dalam ritual pesta panen Lom Plai di Muara Wahau, Kutai Timur, serta hidupnya geliat budaya Dayak Kenyah di Desa Budaya Pampang.
Masuk lebih dalam ke akar sejarah, pilar keraton hadir mewariskan nilai-nilai adiluhung peninggalan kerajaan kuno. Eksistensi kemegahan masa lalu seperti Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura terus dijaga agar tetap relevan dan dikenal oleh generasi hari ini.
Sementara itu, pilar pesisir berkisah tentang keterbukaan. Melalui jalur pelayaran perdagangan sungai dan laut, masyarakat pesisir Kaltim tumbuh menjadi komunitas yang dinamis dan adaptif terhadap akulturasi budaya luar. Salah satu bukti indahnya asimilasi ini bisa disaksikan dalam tradisi Pelas Laut di Desa Sekerat, Kutai Timur.
Upaya Disdikbud Kaltim tidak berhenti pada perayaan seremonial. Demi melindungi warisan fisik prasejarah dan kolonial, pemerintah setempat terus memperjuangkan status Cagar Budaya Peringkat Nasional.
Lewat kajian akademis yang mendalam dan berjenjang, beberapa ikon sejarah Kaltim kini telah resmi diakui secara nasional. Di antaranya adalah Museum Mulawarman, Museum Sadurengas, Lamin Mancong, dan Masjid Jami’ Aji Amir Hasanuddin.
Uniknya, pelestarian ini juga merambah ke dunia kuliner. Cita rasa autentik khas Bumi Etam kini mulai mendapat panggung terhormat. Makanan tradisional seperti amplang Samarinda, kue amparan tatak, hingga jajak juragan mabok telah resmi mengantongi predikat Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Tak puas sampai di situ, tahun ini Disdikbud Kaltim sedang fokus menyusun berkas usulan agar kue keminting yang renyah dan manis bisa menyusul ke daftar nasional.
Tantangan terbesar dari merawat tradisi adalah memastikan ia tidak mati di tangan generasi penerus. Sadar akan hal itu, pemerintah gencar merancang program kreatif untuk memikat hati Gen Z.
Melalui program Gerakan Seniman Masuk Sekolah, para pelaku seni langsung turun tangan mengajar di kelas-kelas, sekaligus menutupi kekurangan guru kesenian.
Ruang kompetisi yang seru juga dibuka lewat Lomba Cerdas Cermat Sejarah Lokal, pemilihan Duta Budaya, hingga audisi paduan suara Gita Bahana Nusantara yang memberi kesempatan bagi anak muda lokal untuk tampil di panggung nasional.
Bagi Sudiyono, seluruh kerja keras ini memiliki satu tujuan besar: membawa kebudayaan lokal ke level tertinggi.
“Sinergi yang kokoh diperlukan agar kebudayaan Kalimantan Timur mampu berdiri sejajar dengan daerah peradaban maju layaknya Provinsi Bali dan Yogyakarta,” pungkasnya optimis. Red








