Samarinda, Solidaritas – Dua orang korban bencana tanah longsor yang terjadi di jalan Giri Rejo Blimau RT 22 Kelurahan Lempake, Samarinda Utara, kota Samarinda, ditemukan tewas tertimbun didalam rumahnya, proses evakuasi berlangsung dramatis , karena tim gabungan Basarnas , BPBD kota Samarinda , Polri, TNI dan relawan harus menggunakan cangkul saat memisahkan jenazah korban dari material lumpur yang menimbunya.
Korban pertama Hamdanah ditemukan di -bagian dapur sekitar pukul 15.20 wita, Hamdanah merupakan ibu dari tiga korban lainnya yang masih dalam pencaharian direrutuhan rumah mereka.
Sekitar pukul 16.50 wita , tim pencaharian kembali menemukan korban lainnya yakni Nasrul (25), korban merupakan anak kedua dari korban pertama, ia ditemukan didalam kamar bagian depan rumah, kedua jenazah langsung dievakuasi ke rumah sakit umum AW Syahranie .
Koordinator pos SAR Samarinda, Mardi Sianturi, mengatakan bahwa tim harus ekstra hati hati dalam melakukan evakuasi mengingat kondisi tanah di tkp yang masih labil, dan rawan terjadi longsor susulan.
Pencaharian tidak hanya dilakukan dengan mendengar keterangan saksi, namun juga menggunakan alat yang dimiliki tim basarnas seperti dua unit eskavator, drone thermal, dan alat ekstrikasi.
Sementara itu untuk mencegah warga yang terus berdatangan dilokasi kejaidian petugas kepolisian polresta samarinda memasang garis polisi disekitar tkp .
“Kebetulan tadi karena posisi tanah yang cukup lebih baik di bagian belakang makanya kita mulai pencaharian dari bagian belakang dan hasilnya kita temukan korban yang pertama ibunya atas nama Hamdan berumur , proses pengangkartan memakan waktu 30 menit karena material tanah yang menempel ditubuh korban,” kata Sianturi.
Setelah itu kami mendeteksi ada korban lainnya disekitar kamar yang berada dipaling depan, sehingga kami lanjutkan pencaharian kedepan dan disitu kami menemukan korban kedua.
“Satu korban lainya berhasil kita temukan pukul 16.50 wita , korban adalah Nasrul laki laki berusia 25 tahun , beliau anak korban pertama,” jelas Silalahi.
Penemuan korban kedua tidak membuat pencaharian dihentikan , namun karena cuaca mulai gelap dan memperhatikan factor keselamatan tim pencari, mengingat tanah masih terus bergerah, operasi pun dihentikan.
“kita hentikan sementara besok pukul 08.00 wita pencaharian kita lanjutkan lagi , hal ini dilakukan karena resikonya yang akan menyebabkan bahaya bagi para penolong,” tegas Sianturi.
Sementara itu untuk mengamankan lokasi longsor dan penanganan longsor di tempat itu pemerintah kota samarinda menempatkan 4 unit eksavator ke lokasi kejadian. Red









