Kutai Kartanegara,Solidaritas– Kunyit hitam, rempah unik dengan segudang manfaat, kini menjadi primadona Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan. Berkat inovasi Dasa Wisma Anggrek, tanaman bernilai ekonomis tinggi ini diolah menjadi produk unggulan yang mulai merambah pasar nasional.
Supinah, Ketua Dasa Wisma Anggrek, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berhasil membudidayakan dan mengolah kunyit hitam dalam bentuk kapsul. Respons masyarakat pun sangat positif, tidak hanya di sekitar Desa Purwajaya, tetapi juga dari luar daerah.
“Produk kunyit hitam kami sudah tersedia di marketplace, sehingga jangkauannya semakin luas. Banyak yang tertarik karena manfaatnya yang luar biasa bagi kesehatan,” ujar Supinah. Tak hanya sekadar produksi, Dasa Wisma Anggrek juga mendapat pendampingan dari dokter dan ahli gizi setempat.
Dengan proses pengolahan yang steril serta kemasan yang bersaing dengan produk komersial lainnya, kualitasnya pun semakin terjamin. Dukungan penuh datang dari Pemerintah Desa Purwajaya. Bahkan, dalam waktu dekat, Dasa Wisma Anggrek akan menjalin kerja sama dengan Universitas Udayana Bali untuk mengembangkan dan meneliti lebih lanjut potensi kunyit hitam ini.
“Produk kunyit hitam kami sudah tersedia di marketplace, sehingga jangkauannya semakin luas. Banyak yang tertarik karena manfaatnya yang luar biasa bagi kesehatan,” kata Supinah.
Keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan dokter dan ahli gizi, yang memastikan bahwa proses pengolahan kunyit hitam dilakukan secara steril dan higienis. Selain itu, produk ini juga dikemas secara modern agar dapat brsaing dengan produk herbal komersial lainnya.

Sementara itu Kepala Desa Purwajaya Adi Sucipto mengaku bahwa pemerintah desa dangat mendukung inovasi yang dilakukan Dasa Wisma Anggrek desa Purwajaya , karena selain memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena dapat menjadi pendapatan bagi warganya, namun juga memiliki nilai kebaikan yakni mampu menjadi obat alternatif bagi penyakit.
“Yang terpenting adalah ada nilai kemanusiaannya, yakni mampu menyembuhkan orang yang sakit selain tentunya ada nilai tambahan yakni pendapatan bagi masyarakat desa Purwajaya,” kata Adi Sucipto.
“Kami warga Purwajaya tentunya sangat bangga dengan keberhasilan Kunyit Hitam ini mendunia, karena tidak hanya mengangkat obat obat tradisional di Indonesia tetapi juga mampu mengangkat nama desa Purwajaya dan Kecamatan Loa Janan,” jelas Adi Sucipto.
Apalagi lanjut Adi Sucipto obat tradisional asal ini membuat salah satu rumah sakit herbal terbesar di Asia yang berada di Bali terus melakukan penelitian dan meminta agar obat produksi kunyit hitam bisa ditingkatkan.
Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan produk kunyit hitam dari Desa Purwajaya dapat memiliki dasar ilmiah yang lebih kuat, serta berpotensi untuk dikembangkan lebih luas hingga ke pasar internasional.
Sebagai tanaman herbal yang memiliki berbagai manfaat, kunyit hitam dipercaya dapat membantu dalam meningkatkan daya tahan tubuh, mengatasi peradangan, serta menjadi terapi bagi berbagai penyakit kronis. Oleh karena itu, permintaan terhadap produk ini terus meningkat, baik dari pasar lokal maupun nasional.
” Mereka tertarik menjadikan kunyit hitam sebagai bagian dari treatment pengobatan. Inilah yang mendorong Universitas Udayana untuk bekerja sama,” jelas Adi Sucipto.
Kunyit hitam, rempah langka yang dikenal memiliki banyak manfaat kesehatan, kini menjadi produk unggulan Desa Purwajaya, Kecamatan Loa Janan. Berkat inovasi Dasa Wisma Anggrek, tanaman bernilai ekonomis tinggi ini telah berhasil dibudidayakan dan diolah menjadi kapsul herbal yang mulai merambah pasar nasional. ADV/Disominfo Kukar/sup








