Kab. Kutai Kartanegara

Generasi Muda saat ini harus Contoh Nilai Patriotisme Pemuda Sanga-Sanga 1947

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Nilai patriotisme sejarah Perjuangan Merah Putih Sangasanga harus terus dituturkan kepada generasi muda saat ini, sehingga generasi muda saat ini bisa mencontoh kisah heroik para pemuda Sanga-sanga yang tergabung dalam BPRI merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda Netherlands Indies Civil Administration (NICA) pada 27 Januari 1947.

“Kita Harus mau melihat kembali ke masa lampau, disaat para pemuda Sanga-sanga yang luar biasa mendesain, merancang penyerangan dengan matang hingga akhirnya melakukan serangan dan membuat tentara Nica akhirnya berhasil merebut Sanga-sanga yang saat itu menjadi pusat ekonomi penjajah Belanda,” kata Edi Damansyah Bupati Kutai Kartanegara saat menjadi inspektur upacara peringatan Perjuangan Merah Putih Sangasanga ke-78 di Lapangan Bola PT Pertamina Hulu Energi Indonesia Zona 9 Sangasanga, Senin (27/1/2025).

“Sanga-sanga menjadi pusat ekonomi penting bagi karena di kota ini terdapat 613 sumur minyak yang beroperasi menghasilkan 70.000 ton minyak setiap bulan. Aktivitas ekonomi ini ditunjang oleh keberadaan tujuh dermaga yang sibuk dengan kegiatan bongkar muat barang dan penumpang kapal,” jelas Edi Damansyah.

Ironinya di balik kemakmuran ekonomi yang dinikmati Belanda itu terdapat kesenjangan ekonomi antara penjajah dan pribumi. Para pekerja pribumi menduduki posisi sangat rendah dan pendapatan yang sangat jauh dari kata layak, sementara pegawai Belanda dan Eropa hidup dengan fasilitas mewah dan bergelimang harta.

“Kondisi timpang inilah serta kehendak untuk merdeka dari cengkeraman penjajah Belanda, yang memicu meletusnya Peristiwa Perjuangan Merah Putih Sangasanga, pada tanggal 27 Januari 1947, dan berakhir pada tanggal 30 Januari 1947 dengan adanya serangan dari tentara Belanda,” imbuhnya.

Edi Damansyah juga mengingatkan agar generasi muda juga mengingat peran para veteran kemerdekaan RI yang berperan pada perjuangan merah putih seperti Budiono selaku komandan tempur saat itu, juga ada La Hasan yang berperan sebagai perobek bendara Belanda.

“Saat itu La Hasan menaiki tiang bendera dan merobek bendera belanda yang berwarna merah putih biru, yang biru dirobek, kemudian bendera dinaikan kembali tinggal berwarna merah putih dengan upacara yang dihadiri para pejuang dan seluruh masyarakat Sanga-sanga,” kata Edi Damansyah.

Dari itu nilai patriotisme sanga sanga itu harus di aktualiasikan oleh generasi muda saat ini oleh kita semua meskipun bukan perjuangan fisik namum perjuangan untuk mengawal pembangunan yang akan terus kita Laksanakan.

“Kita akan laksanakan terus pembangunan di Kecamatan Sanga-sanga hal ini untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera dengan peningkatan pendapatan perbaikan peningkatan perumahan yang layak huni, membangun lingkungan yang baik stabilitas nasional dan kesehatan pendidkian maupun kesmepatan kerja,” kata Edi Damansyah.

“Untuk itu semua pemkab Kukar memohon dukungan dari masyarakat Sanga-sanga, dunia usaha, dan Pemprov Kaltim untuk mewujudkan Kecamatan Sanga-sanga menjadi Kota Wisata Perjuangan, kami akan bangun infrastruktur sesuai dengan rencana kita dan ini perlu kerjasama semua pihak,” tegas Edi Damansyah. Red

 


Bagikan

Related Posts