Samarinda, Solidaritas – Sejak 18 April 2026, pemandangan di papan digital sejumlah SPBU di Kota Tepian berubah. Angka-angka tarif BBM nonsubsidi melonjak cukup drastis, menciptakan riak kekhawatiran yang mulai dirasakan warga, mulai dari pengendara kendaraan pribadi hingga para pelaku usaha jasa distribusi.
Kenaikan ini bukan sekadar urusan angka di SPBU Jalan Juanda atau AW Sjahranie, melainkan sebuah sinyal waspada bagi stabilitas ekonomi rumah tangga di Samarinda.
Bagi masyarakat awam, kenaikan harga Pertamax Turbo menjadi Rp19.850 atau Pertamina Dex yang menyentuh angka Rp24.450 mungkin terasa jauh jika mereka tidak mengonsumsinya.
Namun, realitanya tidak sesederhana itu. Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengingatkan bahwa hampir tidak ada sektor kehidupan yang lepas dari urusan transportasi.
“Mau tidak mau, tingkat inflasi bisa naik. Karena hampir semua sektor kita sangat bergantung pada transportasi,” kata Iswandi.
Kekhawatiran ini beralasan. Ketika truk-truk pengangkut logistik lintas daerah mulai menanggung biaya operasional yang lebih mahal akibat lonjakan harga Dexlite dan Pertamina Dex, maka beban tersebut perlahan akan digeser ke harga sayur-mayur, beras, dan barang kebutuhan pokok lainnya di pasar-pasar tradisional Samarinda.
Dunia usaha memperkirakan biaya transportasi menyumbang hingga 30 persen dari harga pokok produksi. Artinya, kenaikan BBM nonsubsidi ini ibarat “pintu masuk” bagi kenaikan harga barang dan jasa lainnya. Jika tidak diantisipasi, daya beli masyarakat Samarinda bisa tertekan dalam waktu singkat.
Meski fluktuasi harga ini dipicu oleh dinamika geopolitik internasional yang berada di luar kendali pemerintah daerah, Iswandi menekankan pentingnya sikap bijak dari masyarakat.
“Karena ini kebijakan nasional, dampaknya pasti dirasakan semua orang. Kita perlu lebih cermat dalam mengelola keuangan rumah tangga di tengah kondisi yang tidak menentu ini,” tambahnya.
Hingga saat ini, harga Pertamax memang terpantau masih stabil di angka Rp12.600 per liter. Namun, bayang-bayang kenaikan harga pangan tetap menjadi hantu bagi warga prasejahtera.
Kini, warga Samarinda hanya bisa berharap agar lonjakan harga energi ini segera dibarengi dengan langkah konkret pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas harga pangan, agar piring di meja makan tidak ikut “menipis” seiring dengan naiknya angka di papan SPBU. Red









