Kutai Kartanegara, Solidaritas – Kutai Kartanegara (Kukar) sedang bersiap menulis ulang narasi ekonominya. Tak ingin terus-menerus “demam” setiap kali sektor pertambangan bergejolak, duet Bupati Aulia Rahman Basri dan Wakil Bupati Rendi Solihin mulai tancap gas menyemai benih kemandirian ekonomi dari akar rumput.
Melalui konsep One District One Industry (Satu Kecamatan Satu Industri) yang dikawinkan dengan One Village One Product (OVOP), Pemkab Kukar bertekad mengubah wajah desa-desa di wilayahnya menjadi pusat produksi yang berdaya saing.
Selama bertahun-tahun, ekonomi Kukar memang sangat bergantung pada emas hitam. Namun, Bupati Aulia menyadari bahwa ketergantungan ini adalah kerentanan.
“Goyang sedikit sektor pertambangan, sangat mempengaruhi PDRB hingga angka pengangguran terbuka kita,” ungkap Aulia di hadapan peserta Musrenbang RKPD 2027 di Aula Kantor Bappeda Kukar, Senin (20/4/2026).
Bagi Aulia, transformasi ekonomi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan yang tak bisa ditunda. Ia bermimpi setiap kecamatan memiliki satu industri besar yang menjadi jangkar ekonomi, menyediakan lapangan kerja, dan menggerakkan roda bisnis lokal secara berkelanjutan.
Di level yang lebih mikro, program OVOP hadir untuk menghidupkan potensi unik di setiap desa. Harapannya ambisius namun terukur: desa-desa di Kukar tidak boleh lagi hanya menadah tangan menunggu Dana Desa (DD) atau Alokasi Dana Desa (ADD).
“Harapan kita, DD dan ADD hanya menjadi pelengkap. Pembiayaan utama pembangunan desa harusnya lahir dari kekuatan ekonomi desa itu sendiri,” tegas Aulia.
Untuk mewujudkan itu, ia menginstruksikan seluruh OPD agar tidak hanya duduk di balik meja, tetapi terjun langsung mendampingi warga—mulai dari memoles kualitas produk hingga menembus akses pasar yang lebih luas. Sektor swasta pun diajak terlibat melalui dana CSR yang lebih terarah untuk penguatan ekonomi kerakyatan.
Menambahkan optimisme tersebut, Wakil Bupati Rendi Solihin menekankan bahwa semangat ini adalah bagian dari tema besar pembangunan tahun 2027: industrialisasi dan investasi yang berkualitas.
Bahkan, Rendi melempar gagasan yang lebih berani untuk memacu kreativitas warga di tingkat paling bawah. “Kalau perlu, kita dorong sampai ke level paling kecil. Tidak hanya one district one industry dan one village one product, tapi juga one RT one innovation,” pungkasnya dengan semangat.
Dengan strategi ini, Kukar sedang membangun fondasi baru. Sebuah masa depan di mana ekonomi tidak lagi ditentukan oleh apa yang digali dari perut bumi, melainkan dari kreativitas dan inovasi yang lahir dari tangan-tangan warganya sendiri. Red









