Samarinda, Solidaritas- Riuh rendah diskusi di Sekretariat PWI Kalimantan Timur sore itu bukan sekadar obrolan biasa. Di balik gedung yang terletak di Jalan Biola No. 8, Samarinda tersebut, tersimpan sebuah komitmen besar: menjadikan markas wartawan tertua di Indonesia ini sebagai “rumah bersama” yang tetap terjaga kesuciannya dari kepentingan politik praktis.
Ketua PWI Kaltim, Abdurachman Amin, duduk dengan tenang namun tegas saat memimpin rapat internal. Sosok yang akrab disapa Rachman ini melemparkan pesan yang lugas namun penuh makna bagi seluruh anggotanya.
PWI Kaltim, katanya, kini membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapa saja—mulai dari pimpinan daerah, tokoh politik, hingga masyarakat umum—untuk datang dan beradu gagasan.
“Silakan saja datang dan berdiskusi, tetapi PWI tetap berdiri di garis netral,” ujar Rachman, menegaskan bahwa keterbukaan bukan berarti kehilangan kemudi independensi.
Agenda besar terdekat yang menjadi sorotan adalah rencana kunjungan Gubernur Kalimantan Timur ke Gedung PWI. Bagi Duito Susanto, pengurus PWI Kaltim sekaligus Wakil Pemimpin Redaksi SKH Kaltim Post, momentum ini adalah ujian sekaligus peluang. Ia mengajak para wartawan senior—para legend di Benua Etam—untuk hadir, bukan sekadar sebagai pelengkap dekorasi, melainkan sebagai penjaga gawang profesi.
“Kita membolehkan apa saja, namun poin pentingnya adalah tidak menggiring PWI. Apalagi mencoba mengondisikan organisasi ini dalam kepentingan tertentu,” tegas Duito. Pesannya jelas: tamu dihormati, tapi integritas tidak bisa dibeli.
PWI Kaltim juga tak ingin melangkah sendiri. Dalam semangat merangkul, Rachman berencana mengundang seluruh ekosistem media dan asosiasi pers di Kalimantan Timur untuk terlibat. Tujuannya satu, agar marwah pers di Kaltim tetap solid di tengah pusaran arus kepentingan yang kian kencang.
Peringatan senada datang dari Dirhan, pengurus PWI lainnya yang mewanti-wanti agar organisasi ini tidak menjadi tunggangan kepentingan sektoral. Baginya, ada dua hal yang tidak bisa ditawar: menolak intervensi politik praktis dan tetap fokus pada agenda kesejahteraan wartawan.
Diskusi hangat di Jalan Biola itu ditutup dengan pernyataan inklusif dari Sekretaris Umum PWI Kaltim, Said Sahab. Ia menegaskan bahwa PWI bukan menara gading yang eksklusif.
“Pokoknya kita tidak menolak siapa pun yang ingin bertandang ke PWI. Kita terbuka untuk komunikasi dengan siapa saja,” pungkas Said.
Di tengah hiruk pikuk isu daerah yang terus bergulir, PWI Kaltim memilih posisinya: menjadi ruang publik yang hangat untuk berdiskusi, namun tetap menjadi benteng yang dingin terhadap intervensi. Di sini, di markas mereka, semua suara didengar, tapi hanya satu suara yang diikuti—yaitu suara independensi. (rd)









