DPRD Samarinda

Mengintip Tantangan PT BPR Samarinda, Antara Target Miliaran dan Realita Minus di Pertengahan Tahun

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Sebuah target besar kerap kali harus berbenturan dengan realita yang menantang di lapangan. Hal inilah yang kini sedang membayangi PT Bank Perekonomian Rakyat (BPR) Kota Samarinda. Langkah mereka untuk meraup pundi-pundi keuntungan di tahun 2026 diprediksi tidak akan berjalan mulus.
Awan mendung yang menggelayuti target finansial bank milik daerah tersebut terungkap usai jajaran direksi BPR duduk bersama Komisi II DPRD Kota Samarinda.
Pertemuan yang berlangsung hangat di Ruang Rapat Gabungan Lantai 1 Gedung DPRD Kota Samarinda itu agenda utamanya adalah membedah rapor merah-biru keuangan perusahaan tahun 2025 dan 2026, sekaligus mengintip proyeksi bisnis mereka untuk tahun 2027.
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, membagikan pandangan realistisnya seusai rapat. Baginya, angka target laba bersih yang dipatok di kisaran Rp2,5 miliar hingga Rp2,7 miliar terasa sangat ranum di atas kertas, namun teramat berat untuk digapai jika berkaca pada rapor kinerja berjalan.
“Untuk tahun 2026 ini, mereka memasang target laba yang sama tinggi dengan tahun lalu. Tapi, setelah kami bedah laporan kinerja dan kondisi keuangannya secara mendalam, saya pribadi merasa kurang yakin target itu bisa terpenuhi. Rasanya cukup berat,” kata Iswandi, Jumat (3/7/2026).
Keraguan dewan bukan tanpa alasan yang kuat. Garis waktu kalender sudah hampir menyentuh paruh kedua tahun ini, namun rapor keuangan PT BPR Samarinda ternyata masih harus berjuang keluar dari zona merah.
Hingga akhir Mei 2026, alih-alih mengantongi untung, BPR justru mencatatkan rapor minus alias merugi di kisaran Rp120 juta hingga Rp150 juta.
Waktu yang tersisa untuk membalikkan keadaan pun kian menyempit. “Bayangkan, sampai bulan Mei saja posisinya masih minus. Untuk menyentuh angka nol saja belum ketutup, padahal ini sudah mau jalan satu semester. Lalu bagaimana caranya dalam sisa waktu yang ada bisa mencetak laba hingga miliaran rupiah?” tambahnya sembari menghela napas.
Saat ditelisik lebih jauh mengenai sumbatan yang menahan laju bisnis BPR, Iswandi menunjuk pada belum bergerak roda ekosistem pendukung roda ekonomi lokal.
Salah satu motor penggerak utama pembiayaan BPR yaitu proyek-proyek pembangunan dari pemerintah daerah ternyata belum sepenuhnya bergulir hingga pertengahan tahun ini.
Lambatnya start proyek pemerintah ini otomatis membuat perputaran modal dan aktivitas kredit menjadi ikut lesu.
Meski jalan di depan tampak terjal, Komisi II DPRD Samarinda tidak lantas patah arang terhadap bank plat merah ini. Harapan agar PT BPR Samarinda tetap membawa pulang keuntungan di akhir tahun nanti masih terbuka lebar, walaupun dengan catatan targetnya harus dikoreksi secara realistis.
“Kalau sekadar mencetak laba atau untung, saya rasa peluangnya masih ada di sisa bulan ini. Tapi kalau ditanya apakah bisa sesuai target awal? Sepertinya tidak mungkin. Jika mereka bisa mengantongi setengah dari target awal saja, itu sudah menjadi capaian yang sangat bagus untuk kondisi saat ini,” tegas Iswandi menutup perbincangan. Adv

Bagikan

Related Posts