Kutai Kartanegara, Solidaritas – Bagi sebagian orang, pengalaman pahit sering kali melahirkan keluhan. Namun bagi Suwaji, pria asal Desa Separi, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara, pengalaman pahit justru menjadi bahan bakar untuk melahirkan sebuah perubahan besar di tanah kelahirannya.
Semua bermula dari rasa “kapok”. Beberapa tahun lalu, saat berlibur ke luar daerah bersama keluarga besarnya, Suwaji harus mengelus dada. Dompetnya terkuras habis bukan hanya karena tiket masuk, melainkan karena rentetan biaya tambahan tersembunyi. Mulai dari sewa tempat duduk, gazebo, hingga larangan membawa makanan dari luar yang memaksanya membeli hidangan dengan harga selangit.

“Pengalaman saya kalau berlibur, setelah membayar tiket, pengunjung masih disibukkan dengan mencari tempat yang ternyata juga harus membayar. Hal ini tentunya jadi masalah kalau kita datang membawa keluarga yang banyak,” kenang Suwaji saat berbincang dengan Solidaritas.
Trauma dompet jebol itulah yang memicu kenekatan di kepala pria yang saat itu masih berstatus sebagai karyawan perusahaan tambang batu bara. Ia bertekad memutus rantai “wisata mahal” tersebut. Mengambil langkah berani, Suwaji memilih menanggalkan seragam tambangnya dan pulang ke desa untuk membangun wahana wisatanya sendiri.
Memulai bisnis wisata air di sebuah desa bukanlah perkara mudah. Dengan modal seadanya dan lahan yang sangat terbatas—hanya berukuran 50 x 50 meter—Suwaji mulai menggali tanah desanya untuk membangun sebuah kolam renang.
Awalnya, ia mengaku hanya coba-coba. Ia ingin menyediakan alternatif hiburan yang dekat bagi warga Tenggarong Seberang agar mereka tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam dan menempuh perjalanan jauh ke Kota Samarinda atau Balikpapan hanya untuk sekadar berenang.
Namun, siapa yang menyangka? Respons warga sekitar justru meledak. Kolam sederhana di lahan terbatas itu mendadak menjadi magnet baru. Antusiasme yang luar biasa dari masyarakat membuat usaha coba-coba ini menggelinding bak bola salju.
Dari yang tadinya hanya satu kolam kecil, kini area tersebut telah bertransformasi menjadi water park megah dengan tiga kolam waterboom besar yang dilengkapi berbagai wahana permainan air interaktif.
Yang membuat water park milik Suwaji berbeda dari destinasi wisata modern lainnya adalah filosofi bisnisnya yang “melawan arus”. Alih-alih mencari keuntungan dari setiap jengkal fasilitas, Suwaji justru menggratiskan hal-hal yang biasanya menjadi ladang duit pengusaha wisata.
Di tempat ini, pengunjung tidak akan ditarik biaya, karena Semua tempat bersantai disediakan secara cuma-cuma
“Dari pengalaman pribadi itu, saya berjanji kalau memulai usaha ini akan menggratiskan tempat bagi pengunjung,” ujarnya dengan nada mantap.
Tak hanya itu, aturan ketat larangan membawa makanan dari luar yang lazim ditemui di tempat wisata lain sama sekali tidak berlaku di sini.
Suwaji justru membebaskan, bahkan menyarankan pengunjung membawa bekal sendiri dari rumah demi menekan biaya liburan keluarga.
Bagi keluarga yang ingin menggelar sesi memasak bersama, Suwaji menyediakan tempat khusus. Pengunjung hanya perlu membayar biaya kebersihan dan listrik yang digunakan.
“Kami yakin orang yang berlibur tentu mengeluarkan uang yang banyak. Agar pengunjung tidak kapok, maka kami bebaskan mereka membawa makanan sendiri,” tambahnya.
Bagi Suwaji, air di kolam waterboom-nya tidak boleh hanya menyegarkan tubuh pengunjung, tetapi juga harus menyegarkan perekonomian warga Desa Separi. Sejak awal merintis, ia berkomitmen untuk berjalan beriringan dengan masyarakat sekitar.
Hampir seluruh roda operasional water park ini mengandalkan tenaga kerja lokal. Warga desa diberdayakan mulai dari sektor pengamanan di sekitar kolam demi keselamatan pengunjung, hingga pengelolaan lahan parkir kendaraan.
“Ya, semuanya kita libatkan agar perekonomian masyarakat sekitar juga membaik,” tegas mantan karyawan tambang tersebut.
Kepedulian Suwaji tidak berhenti di dalam pagar water park-nya saja. Ia aktif mendorong tetangga dan warga sekitar yang ingin membuka usaha lain untuk menangkap peluang dari keramaian wisatanya. Salah satunya adalah sektor pemancingan.
Beberapa pengusaha pemancingan lokal kini berkolaborasi erat dengannya. Tak sekadar memberi ruang, Suwaji bahkan menyuntikkan bantuan nyata berupa fasilitas lampu solar cell (tenaga surya) gratis untuk menerangi lokasi pemancingan warga saat malam hari.
Dari sepetak lahan coba-coba dan sebuah janji masa lalu, Suwaji membuktikan bahwa bisnis terbaik bukan sekadar tentang seberapa besar angka keuntungan yang masuk ke rekening pribadi, melainkan seberapa luas kebermanfaatan yang bisa dialirkan untuk menghidupi orang banyak. Red









