Samarinda, Solidaritas – Dunia pendidikan di Kalimantan Timur sedang berduka sekaligus berevaluasi. Kepergian Mandala Rizky Syahputra (16), pelajar kelas 11 salah satu SMK di Samarinda, memicu perhatian luas setelah diketahui penyebab kematiannya bermula dari infeksi akibat penggunaan sepatu sekolah yang kekecilan.
Kasus ini mendapat perhatian serius dari pemerintah provinsi. Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim, Armin, menegaskan bahwa secara medis infeksi memang bisa terjadi, namun ia menyoroti masalah mendasar pada komunikasi.
“Kalau disebut meninggal karena sepatu, itu sebenarnya karena infeksi. Tapi mestinya kondisi seperti ini bisa diketahui lebih awal,” ujar Armin saat dikonfirmasi, Minggu (3/5/2026).
Armin menyayangkan kejadian ini mengingat pemerintah sebenarnya memiliki berbagai skema bantuan seperti Program Indonesia Pintar (PIP), dana BOS nasional, hingga BOS daerah yang seharusnya bisa menjamin kebutuhan dasar siswa seperti sepatu dan seragam.
Lebih lanjut, Armin menekankan agar sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi “rumah kedua” yang peka terhadap kondisi sosial dan ekonomi peserta didik. Ia meminta guru wali kelas dan guru Bimbingan Konseling (BK) lebih proaktif memantau siswa mereka.
“Sekolah harus tahu kondisi anaknya. Jangan sampai ada anak tidak sekolah atau mengalami kesulitan hanya karena sepatu. Anak harus merasa aman dan nyaman untuk bercerita,” tegasnya.
Tragedi yang menimpa Mandala kini menjadi bahan evaluasi besar bagi seluruh satuan pendidikan di Kalimantan Timur. Pemerintah berharap komunikasi antara sekolah, orang tua, dan siswa dapat diperkuat agar tidak ada lagi siswa yang terabaikan di tengah keterbatasan. Red









