Samarinda, Solidaritas – Meski terbilang baru dan unik bagi warga Samarinda, kegiatan Mahakam Mask Carnival 2026 mendapat apresiasi yang cukup meriah dari para peserta dan juga penonton. Ribuan pasang mata tampak memadati Jalan Yos Sudarso hingga Jalan Gajah Mada, Samarinda, Kalimantan Timur, pada Minggu (27/9/2026) pagi.
Sejak pukul 06.00 WITA, warga mulai memadati jalan protokol yang menjadi rute perlintasan parade. Berbeda dari biasanya, tahun ini pihak panitia sengaja mengambil rute baru yang lebih segar.
Sepanjang jalan poros Kota Samarinda pun mendadak berubah menjadi lautan warna dan kreativitas. Ribuan topeng dengan berbagai bentuk serta ekspresi tampak memenuhi jalanan dan memukau warga yang berbaris rapi di balik pembatas jalan.
Kemeriahan ini merupakan bagian dari gelaran Mahakam Mask Carnival 2026, sebuah parade seni bertopeng megah yang digelar khusus dalam rangka memperingati Hari Pariwisata Dunia. Mengusung misi mengangkat kembali kekayaan budaya Nusantara, ajang ini sukses menjadi magnet wisata baru yang menyedot perhatian besar dari masyarakat lokal maupun pelancong.
Antusiasme tinggi terpancar jelas dari wajah para peserta yang terdiri dari perwakilan paguyuban kedaerahan, pelaku modeling, hingga korps Drum Band pelajar. Sebanyak ribuan orang yang tergabung dalam berbagai komunitas seni dan budaya ini berkumpul mengenakan kostum terbaik mereka.

Tidak hanya menggunakan topeng budaya, beberapa topeng pahlawan pembela kebenaran di film film kartun juga digunakan oleh para peserta.
Melintasi rute jalan poros sepanjang 1,5 kilometer, parade ini sukses memamerkan kekayaan visual lewat beragam kreasi topeng. Mulai dari bentuk tradisional yang sarat nilai magis, hingga desain modern yang penuh dengan sentuhan inovasi.
Kepala Dinas Pariwisata Kalimantan Timur, H.M. Faisal, menjelaskan bahwa ajang ini memikul misi penting. Selain merayakan hari pariwisata internasional, karnaval ini menjadi wadah strategis untuk mengenalkan kembali identitas dan akar budaya topeng Indonesia kepada generasi muda.
“Ini untuk meningkatkan ekonomi yah, menggerakkan ekonomi kreatif, serta wadah penyaluran aspirasi seni budaya,” ungkap Faisal di sela-sela acara.
Ia juga menambahkan bahwa topeng adalah warisan universal yang dimiliki hampir seluruh suku di tanah air, sehingga berpotensi besar menarik pariwisata lintas daerah.
“Setiap budaya suku bangsa di Indonesia ini masing-masing punya topeng, sehingga kita punya kesempatan mengundang daerah lain untuk datang ke sini. Mudah-mudahan tahun depan kita rapikan lagi manajemennya dan bisa mengundang peserta dari daerah lain secara resmi, sehingga ekonomi kreatif kita tetap jalan terus,” imbuhnya.
Ada hal berbeda yang patut diacungi jempol dari pelaksanaan Mahakam Mask Carnival tahun ini.
Di tengah kemeriahannya yang masif, agenda budaya ini sepenuhnya diselenggarakan secara mandiri berkat dukungan penuh dari pihak sponsor, tanpa menyentuh Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sama sekali.
Kemandirian serta tingginya kreativitas penyelenggara dalam menggaet kerja sama swasta ini pun menuai apresiasi positif dari berbagai pihak.
Astrid, salah satu warga Samarinda yang hadir menonton bersama keluarganya, mengaku sangat terkesan dengan jalannya acara dan berharap kegiatan serupa bisa terus dipertahankan.
“Bagus ya, kegiatan seperti ini kalau bisa diagendakan setiap tahun. Karena mengingat kita untuk pariwisata memang sangat perlu di Provinsi Kalimantan Timur. Kedepannya lebih menarik lah kegiatan ini,” tutur Astrid.
Melalui simbol-simbol topeng yang merepresentasikan keanekaragaman suku bangsa di Indonesia, Karnaval Topeng Mahakam 2026 tidak sekadar menjadi hiburan visual di akhir pekan.
Lebih dari itu, event ini diharapkan mampu menjadi jembatan rasa kebersamaan, persatuan, dan kebanggaan akan budaya antar masyarakat di seluruh penjuru tanah air. Red









