Samarinda, Solidaritas-Suara riuh riak pengunjung Kaltim Expo di Atrium Bigmall Samarinda mendadak khidmat pada Kamis siang (20/08). Di atas panggung utama, di sela-sela ketegangan pengumuman pemenang Lomba Desa Wisata tingkat Provinsi Kalimantan Timur, sebuah langkah besar bagi masa depan pelesiran Benua Etam resmi ditorehkan.
Pena demi pena digoreskan di atas kertas putih, menandai babak baru bagi enam desa wisata di Kaltim yang kini tidak lagi berjalan sendirian. Mereka resmi “dipinang” oleh para mitra strategis dari dunia korporasi dan perbankan.
“Dari rencana 13 desa wisata, hari ini kita menandatangani kerjasama dengan enam desa. Sebelumnya sudah ada satu desa, yakni Kampung Tenun di Samarinda dengan Bank Indonesia. Setelah ini nanti akan ada enam desa lain melakukan akad,” ujar Muhammad Faisal Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim.
Langkah ini bukan sekadar seremonial di atas panggung megah. Bagi desa-desa yang tersebar dari pedalaman Mahakam hingga pesisir Berau, tanda tangan ini adalah angin segar yang membawa harapan baru untuk tumbuh lebih cepat, terarah, dan berkelanjutan.
Pengembangan pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism) kerap kali terbentur dinding tebal bernama keterbatasan modal dan akses pasar. Melalui kemitraan strategis ini, dinding itu coba diruntuhkan.
Para mitra yang bergabung tidak hanya membawa dana segar melalui program tanggung jawab sosial, tetapi juga membawa komitmen jangka panjang.
Komitmen tersebut mencakup lini-lini krusial yang selama ini menjadi pekerjaan rumah di tingkat desa seperti suntikan inovasi yang diharapkan mampu mengembangkan destinasi dan produk unggulan lokal.
Selain itu lanjut Faisal, penguatan Fondasi dengan mempercepat kepengurusan legalitas Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk produk kreatif desa. Kemudian program peningkatan kualitas SDM pariwisata agar siap menyambut wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Yang pasti kerjasama ini diharapkan menjadi jembatan digital untuk melakukan promosi masif dan perluasan akses pasar yang selama ini sulit dijangkau oleh pengelola lokal,” jelas Faisal.
Kemitraan yang terbentuk memetakan potensi unik dari masing-masing daerah dengan karakteristik para mitra pembimbingnya:
- Desa Wisata Klempang Sari (Paser) bersanding dengan PT Kideco Jaya Agung, siap menyulap potensi agrowisata dan budaya setempat.
- Desa Wisata Kang Bejo (Balikpapan), yang terkenal dengan inovasi kangkung sumber boga, kini disokong oleh PT PLN Nusantara Power Unit Kaltimra Balikpapan.
- Desa Wisata Rindang Benua (Kutai Timur), benteng budaya Dayak di tengah kepungan industri, kini didampingi oleh PT Kaltim Prima Coal.
- Kampung Wisata Batu Majang (Mahakam Ulu), mutiara tersembunyi di hulu Mahakam, mendapat suntikan penguatan ekonomi dari Bankaltimtara Cabang Mahakam Ulu.
- Desa Wisata Tanjung Isuy (Kutai Barat), yang sarat akan sejarah tenun Ulap Doyo, dikeroyok sekalgus oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim dan PT Pegadaian Area Samarinda untuk literasi keuangan dan permodalan kreatif.
- Desa Wisata Tanjung Batu (Berau), gerbang daratan menuju pesona Kepulauan Derawan, kini dikawal oleh PT Migas Mandiri Pratama.
Di bawah lampu sorot mall yang terang, Muhammad Faisal menegaskan bahwa pemerintah tidak akan lepas tangan. Dinas Pariwisata di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota akan memposisikan diri sebagai dirigen—bertindak sebagai pengarah, pengawas, sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi (monev) berkala demi memastikan komitmen ini bukan sekadar janji di atas kertas.
Lebih dari itu, strategi ini merupakan pengejawantahan dari konsep hexahelix, di mana pembangunan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah dan swasta.
“Tentu saja kami sangat berterima kasih kepada seluruh mitra strategis atas terwujudnya program kemitraan ini. Kami juga akan melibatkan aktif para akademisi dan insan pers sebagai bagian dari hexahelix untuk mendukung kegiatan,” jelas Faisal.
Saat sore mulai luruh di Samarinda, para kepala desa dan perwakilan kelompok sadar wisata (pokdarwis) pulang dengan senyum merekah. Di dalam tas mereka, ada dokumen kerja sama yang siap diubah menjadi aksi nyata di lapangan.
Detak pariwisata Kalimantan Timur kini punya ritme baru: sebuah ritme gotong royong, di mana alam yang indah, budaya yang luhur, dan industri yang maju bergerak beriringan menjaga napas bumi Etam. Red









