Opini

Dari Pasar Tungging ke Pasar Pagi

Bagikan

Catatan Rizal Effendi

HARI RABU, 5 Agustus 2026 saya ke Samarinda. Saya memenuhi undangan Wakil Dekan Fakultas Ekonomi & Bisnis (FEB) Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerjasama Unmul, Rian Hilmawan untuk bertemu dengan 850 masiswa baru FEB. Soalnya saya Ketua Ikatan Alumni (IKA) FEB. Jadi wajar bertemu adik-adiknya untuk memberi semangat.

Sebelum ke kampus Unmul di Gunung Kelua, saya sempatkan dulu singgah di dua pasar di Samarinda yang lagi viral. Pasar Tungging di Samarinda Seberang, kemudian ke Pasar Pagi yang baru direvitalisasi besar-besaran oleh Wali Kota Andi Harun.

Pasar Tungging viral karena dinilai menarik dan khas. Karena itu jadi distinasi wisata baru. Sedang Pasar Pagi viral karena sudah dipermak habis-habisan dengan biaya ratusan miliar, ternyata masih sepi dari penjual dan pembeli.

Nama pasar tungging cukup unik. Kata tungging itu terkesan bahasa Banjar, yang artinya posisi tubuh membungkuk dengan kepala di bawah dan bokong terangkat ke atas.

Kata ini juga merujuk pada istilah waktu atau nama pasar tradisional. Seperti pasar dadakan di mana penjualnya melapak dengan barang jualannya diampar di lantai, sedang pembelinya terpaksa menungging untuk memilih barang yang dibeli sekalian melakukan pembayaran.

Pasar tungging terkenal di Banjarmasin. Sampai ada perwalinya. Belakangan ternyata juga ada di Samarinda tepatnya di Samarinda Seberang. Saya lihat di media sosial banyak sekali postingannya. Karena itu saya tertarik datang ke sana.

Pasar Tungging Samarinda Seberang berada di Jalan Bung Tomo. Hanya sekitar 500 meter dari Jembatan Mahakam. Ternyata saya pernah ke sana. Waktu acara “Desak Anies.” Itu kawasan santai Dacoffee, tempat anak muda nongkrong pada malam hari.

Yang menarik dari pasar ini, selain emak-emak bisa berbelanja kebutuhan dapur, juga panoramanya yang asyik. Karena persis di tepi Sungai Mahakam. Wau, kita melihat pemandangan yang menarik. Lihat jembatan Mahakam, yang di bawahnya tiap beberapa menit melintas tongkang atau ponton pembawa batu bara. Dari tempat itu kita juga dapat menyaksikan keindahan Masjid Islamic Center. Hanya saja air Mahakam tidak sebening dulu. Cenderung keruh karena terjadi eksploitasi hutan dan tambang di hulunya.

Sayang saya datang hari kerja. Jadi agak sepi. “Kalau hari libur, hari Minggu banyak sekali orang datang ke sini. Selain belanja, banyak warga memanfaatkan untuk rekreasi,” kata Ibu Aisyah, seorang  penjual makanan di tempat itu.

Saya sempat memesan makanan favorit saya. Mulai soto banjar, sate ayam bumbu kacang, wadai apam dan sanggar cempedak.  Nikmat sekali.

SEPI PENJUAL DAN PEMBELI

Dari Pasar Tungging saya ke Pasar Pagi. Kawasan pasar ini terbilang luas. Sekitar 10 ribu meter persegi. Kita bisa masuk lewat Jl Jend Sudirman, bisa juga lewat Jl Gajah Mada, yang berada di Tepi Mahakam.

Pasar Pagi termasuk pasar legenda.  Soalnya berdiri sejak akhir 1940-an. Sebelum kita merdeka. Lalu diresmikan 21 Januari 1959. Setahun sebelum pembentukan Samarinda sebagai kotapraja. Tanggalnya persis sama 21 Januari 1960.

Di tahun kelahiran saya, 1958, Pasar Pagi mengalami kebakaran besar. Pedagang mengalami kerugian. Lalu secara perlahan dilakukan pemugaran. Di era Wali Kota Waris Husain, dilakukan pemugaran besar untuk memperluas fungsi belanja.

Pasar Pagi juga dikenal oleh warga pedalaman Kutai terutama para pedagangnya. Mereka sebagian membeli barang-barang kelontongan termasuk mesin-mesin perahu atau speedaboat di Pasar Pagi. Lalu diangkut dengan kapal motor yang hilir mudik dari Samarinda ke pedalaman atau ke hulu Mahakam.

Dulu waktu masih tinggal di Samarinda saya sering ke Pasar Pagi. Beli buku di Toko Aziz atau ke warung Banjar milik teman saya. Namanya Arifin, dia di sekolah dikenal sebagai pelari cepat. Tadi dia sudah tiada. Allah memanggilnya lebih dulu. Saya tidak tahu apa masih ada warungnya.

Pada tahun 2024, Wali Kota Andi Harun melakukan revitalisasi Pasar Pagi besar-besaran. Bangunan lama diruntuhkan, lalu didirikan bangunan modern dan megah berlantai 8. Ada fasilitas tangga berjalan, lift dan eskalatornya.

Biayanya pembangunannya tidak tanggung-tanggung. Rp468,5 miliar. Dibebankan ke APBD. Sekitar seperenam dari APBD Samarinda yang tercatat sekitar Rp3 triliun lebih. Bayangkan betapa besarnya dana yang dikeluarkan.

Saya takjub melihat pasar tersebut. Hebat, Wali Kota Andi Harun bisa melakukannya, meski protes bertubi-tubi disampaikan para pedagang. Banyak yang tidak mau Pasar Pagi dibenahi, meski keadaannya sangat payah bertahun-tahun.

Sayangnya pasar semegah itu lagi jadi gunjingan. Lantaran belum terisi maksimal. Pemerintah Kota mentargetkan akhir Agustus ini semua pedagang segera aktif berjualan. Tapi sampai kemarin mashi ada yang kosong, termasuk di pasar basahnya. Kabarnya masih ad seribu dari 2.500 lebih lapak yang tersedia masih kosong.

Ketika saya datang kemarin, pedagang pisang masih berjualan di emper pertokoan di Jl Sudirman. Saya sempat beli pisang Palembang, yang susah didapatkan di Balikpapan. Penjual ayam kampung hidup juga masih berjejer di pinggir jalan. Mereka menggunakan sepeda atau sepeda motor.

Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi yang melakukan peninjauan Kamis (3/7) lalu mengaku miris melihat keadaan itu. “Empat jam saya meninjau dari lantai 7 sampai ke lantai bawah, ternyata sebagian besar lapak masih kosong. Pedagang mengeluh. Karena itu segera kita panggil semua pihak, agar pasar ini benar-benar terisi,” tandasnya kepada awak media.

Kepala Dinas Perdagangan Samarinda, Nurrahmani, mengakui menata Pasar Pagi memang tidak gampang. Perlu pengertian semua pihak terutama para pedagang. “Semua ingin di lantai bawah, mana mungkin. Kan sudah diatur zonasinya sesuai lantai,” jelasnya.

Saya jadi teringat ketika Pemkot Balikpapan merevitalisasi Pasar Pandan Sari menjadi 5 lantai. Sampai sekarang yang terisi hanya 2 lantai. Sisanya kosong. Pedagang dan pembeli malas dan capek naik ke atas. Lalu pedagang lari ke emper jalan. Berkali-kali dilakukan penertiban selalu gagal. Sampai sekarang.

Thoriq Hakim, Ketua Forum Pedagang Pasar Pagi (FPPP) mengaku sudah berkirim surat ke Wali Kota Andi Harun. Ada 10 usulan atau saran yang mereka sampaikan. Di antaranya tangga masuk yang tinggi dipasangi eskalator. Biar penjual dan pembeli tidak capek atau lelah kalau membawa barang banyak.

Ada juga disampaikan adanya sejumlah pemegang SKTUB (Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan) yang belum mendapatkan kios atau lapak.

FPPP juga minta agar besarnya biaya retribusi dan parkir diturunkan. “Tidak pedagang saja yang mengeluh, pembeli yang datang berkendaraan juga menyampaikan hal yang sama. Kemahalan,” kata Thoriq.

Mobil saya sempat parkir di lantai bawah. Saya lihat tarifnya memang tinggi. Untuk sepeda motor Rp10 ribu, mobil Rp25 ribu dan truk Rp35 ribu.

Ketika saya naik menggunakan eskalator ke lantai 5, saya lihat ada sejumlah pedagang duduk berkumpul. Saya kira mendiskusikan masalah jualan yang sepi, ternyata mereka asyik main gaple. Sesekali mereka tertawa nyaring sambil mengisap rokok.

Saya yakin Wali Kota Andi Harun bisa menyelesaikan masalah ini. Dia wali kota yang tangguh dan piawai. Pada saatnya Pasar Pagi yang megah itu bisa memberikan kemegahan untuk pedagang dan pembelinya. Tidak mungkin Pasar Pagi menjadi pasar yang menungging. Megah bangunannya, tapi sakit tungging para pedagang dan pembelinya.(*)

 


Bagikan

Related Posts