Kota Samarinda

 Cara Asyik Pelajar Samarinda Jaga Warisan Leluhur

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Ruang kelas di Kota Samarinda kini tidak lagi sekadar menjadi tempat menghafal rumus. Lewat terobosan terbaru dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, para siswa kini diajak bertualang menyelami kekayaan tradisi mereka sendiri dengan cara yang jauh lebih seru dan kekinian.
Pemerintah Kota Samarinda melalui Disdikbud telah resmi menyusun 24 pilihan materi muatan lokal (mulok) kebudayaan. Langkah ini diperkuat oleh payung hukum berupa Peraturan Wali Kota Samarinda yang baru saja disahkan. Tujuannya jelas, membawa pulang identitas daerah ke dalam ruang-ruang kelas.
Menariknya, kurikulum baru ini tidak bersifat kaku. Setiap sekolah diberikan kebebasan penuh untuk memilih materi yang paling cocok dengan minat siswa dan kesiapan fasilitas sekolah.
Opsi materi yang disediakan sangat beragam, mulai dari seni tari tradisional, tata boga khas daerah, tata busana lokal, cerita rakyat, olahraga tradisional, hingga pengembangan bahasa daerah seperti Kutai, Banjar, dan Dayak.
“Penyusunan 24 pilihan muatan lokal ini dirancang untuk mendekatkan generasi muda dengan akar tradisi daerahnya melalui pembelajaran menyenangkan di sekolah,” ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kota Samarinda, Barlin Hady Kusuma.
Disdikbud Samarinda sadar betul bahwa mendekati generasi Z dan Alpha tidak bisa lagi menggunakan metode lama. Oleh karena itu, selain belajar teori di kelas, para pelajar juga ditantang untuk menjadi kreator konten.
Mereka didorong untuk membuat konten digital kreatif yang membahas tentang sejarah dan cagar budaya di sekitar tempat tinggal mereka. Integrasi teknologi ini terbukti ampuh meningkatkan rasa ingin tahu siswa sekaligus membuat materi sejarah lokal menjadi jauh lebih hidup.
“Kami ingin memastikan kebudayaan lokal tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar dipraktikkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari para siswa,” tegas Barlin.
Selain itu sinergi antara teknologi, kurikulum, dan ekspresi seni ini diharapkan menjadi fondasi besar untuk mewujudkan Samarinda sebagai kota pusat peradaban baru. Tidak tanggung-tanggung, Pemkot Samarinda juga menyiapkan panggung nyata bagi para pelajar untuk unjuk bakat melalui pementasan seni dan festival budaya tahunan.
Di tengah gempuran modernisasi yang sering kali mengikis nilai-nilai lokal, penguatan ekosistem pendidikan berbasis budaya ini menjadi perisai penting bagi remaja Samarinda. Dengan mengenal dan mencintai budayanya, para siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang tangguh sekaligus bangga akan identitas aslinya.
“Harapan kami seluruh sekolah dapat memanfaatkan opsi muatan lokal ini secara konsisten agar warisan leluhur tetap lestari di masa mendatang,” pungkas Barlin. Red

Bagikan

Related Posts