Samarinda, Solidaritas – Ruang Aratula Ballroom di Gedung Bapperida Kota Samarinda mendadak senyap lalu gemuruh oleh tepuk tangan pada Jumat (24/7/2026) malam. Di hadapan ratusan kader biru-kuning, Wali Kota Samarinda, Dr. H. Andi Harun, tidak hanya hadir sebagai seorang pejabat nomor satu di kota ini, melainkan sebagai seorang sesama aktivis yang rindu akan ruang dialog yang sehat dan tajam.
Saat membuka Konferensi Cabang (Konfercab) XXXV Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Samarinda, Andi Harun melontarkan pernyataan yang tidak biasa keluar dari mulut seorang penguasa. Dengan tegas, ia menyebut organisasi kemahasiswaan seperti PMII adalah mitra kritis sekaligus penjaga gawang nilai demokrasi yang sangat strategis.
“Aspek kebenaran itu tidak selamanya datang dari pemerintah. Bahkan, kadang-kadang kekeliruan dan kesalahan bisa datang dari pemerintah, sementara kebenaran justru hadir dari teman-teman aktivis sebagai representasi masyarakat,” ujar Andi Harun yang langsung disambut riuh para peserta.
Bagi Andi Harun, seorang kepala daerah justru harus sering hadir di forum mahasiswa agar otaknya terus dipasok oleh perspektif yang luas dan jujur.
Mengangkat tema “Bersama Menciptakan Konfercab yang Inklusif, Demokratis, dan Berkualitas”, Andi Harun mengingatkan bahwa sejarah peradaban dunia selalu digerakkan oleh satu hal, kegelisahan kaum muda. Namun, ia memberikan alarm keras agar organisasi sebesar PMII tidak tergelincir ke dalam lubang pragmatisme demi kenyamanan sesaat.
“Ketika idealisme berubah menjadi pragmatisme, keberanian bergeser menjadi kenyamanan, dan ruang diskusi berpindah menjadi ruang transaksi, di situlah organisasi mulai kehilangan daya hidupnya,” tegasnya dengan nada emosional namun penuh petuah.
Merujuk pada pemikiran ekonom dunia Amartya Sen, Wali Kota menjelaskan bahwa hakikat pembangunan adalah memperluas kebebasan masyarakat. Oleh sebab itu, kritik dari mahasiswa bukanlah sebuah ancaman, melainkan obat agar kekuasaan tidak menyimpang dari konstitusi. Pemerintah, tegas Andi Harun, dilarang keras alergi terhadap protes selama hal itu demi kepentingan umum.
Di tengah suasana suksesi kepemimpinan PMII, ia juga mengajak seluruh organisasi kepemudaan yang tergabung dalam Kelompok Cipayung untuk terus mengawal kebijakan publik. Ia berharap Konfercab ke-35 ini tidak sekadar menjadi ajang rebutan kursi ketua, melainkan sebuah laboratorium yang melahirkan pemimpin berintegritas.
Perbedaan pandangan politik di dalam forum harus disikapi secara dewasa tanpa merusak persaudaraan.
Di akhir pidatonya, ia menitipkan sebuah pesan besar agar aktivis mahasiswa tidak mudah diadu domba dengan aparat penegak hukum yang bisa mengaburkan fokus perjuangan rakyat.
Bersama jajaran Forkopimda, Kepala Kesbangpol Yosua Laden, Kasatpol PP Anis Siswantini, dan Ketua TWAP Syaparudin yang mendampinginya, Andi Harun meminta komitmen PMII untuk menjaga Samarinda tetap kondusif, aman, dan damai.
“Saya meminta bantuan PMII untuk terus menjaga Samarinda tetap aman… Mari kita terus bersama mengawal berbagai persoalan sosial demi kemajuan Kota Samarinda,” tutup Andi Harun, seraya menegaskan bahwa ia akan selalu menjadi bagian dari keluarga besar gerakan mahasiswa, apa pun hasil konferensi nanti. Red









