Kota Samarinda

Saat Api Merenggut Tempat Berteduh 79 Jiwa di Samarinda

Bagikan

Samarinda, Solidaritas – Sabtu sore itu, angin berembus tenang di kawasan Kelurahan Simpang Tiga, Kecamatan Loa Janan Ilir, Kota Samarinda. Di dalam rumah-rumah kayu yang berhimpitan di Gang Mawar dan Gang Ikhlas, RT 18, Jalan Soekarno-Hatta, sebagian besar warga sedang menikmati istirahat siang. Jam dinding menunjukkan pukul 14.45 WITA, waktu yang begitu lelap bagi banyak orang.
Namun, kedamaian itu mendadak luluh lantak dalam hitungan menit. Pekikan histeris memecah kesunyian sore ketika gumpalan asap hitam tebal tiba-tiba membubung ke langit, disusul kobaran api yang langsung membesar.
Aprilia, salah satu warga setempat, tidak pernah menyangka akhir pekannya akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat petaka itu datang, ia sedang tertidur pulas bersama buah hatinya di area dapur.
Ia mendadak terjaga karena hawa panas yang menyengat dan suara gemertak kayu yang terbakar. Begitu membuka mata, pemandangan mengerikan langsung menyambutnya: api sudah berkobar hebat dari dalam kamarnya. Tanpa sempat memikirkan harta benda, Aprilia langsung mendekap erat anaknya dan berlari keluar menyelamatkan diri.
“Gak ada tahu apa-apa, saya di dapur tidur, ketika terbangun asap tebal keluar dari kamar dan saya langsung menggendong anak saya  keluar dan menyelamatkan diri,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh keluarganya telah rata dengan tanah. Aprilia hanya bisa pasrah dan menumpang sementara di rumah kerabatnya. Meski kehilangan tempat tinggal, ia tetap bersyukur nyawa diri dan anaknya masih bisa terselamatkan.
Kepanikan serupa juga dirasakan oleh Bukhran, Ketua RT 18. Saat kebakaran pecah, situasi kampung memang sedang sepi karena banyak warga yang tidur siang. Bukhran yang sedang berada di rumah warga lain langsung tersentak mendengar teriakan kebakaran.
Tanpa memikirkan keselamatan sendiri, ia refleks mengambil Alat Pemadam Api Ringan (APAR) portabel dan berlari menuju titik api.
“Ada warga memberitahu ada kebakaran. Saya langsung berangkat membawa pemadam yang kecil itu, yang portabel itu. Mana sampai di atas itu, ya APAR. Gak bisa, api sudah membesar,” ujar Bukhran pasrah.
Kondisi permukiman yang didominasi bangunan kayu berhimpitan serta akses gang yang sempit, membuat api dengan sangat cepat melompat dari satu atap ke atap lainnya. APAR kecil di tangan Bukhran tak lagi mampu membendung amuk si jago merah.
Petugas Pemadam Kebakaran Kota Samarinda yang tiba di lokasi harus berjibaku ekstra keras. Medan gang yang sempit menjadi tantangan besar bagi armada damkar untuk menjangkau titik api. Dibutuhkan waktu hingga satu jam 45 menit sebelum petugas akhirnya berhasil menjinakkan dan memadamkan total kobaran api.
Herry Suhendra, salah satu petugas Damkar Kota Samarinda, menjelaskan bahwa material bangunan menjadi pemicu utama cepatnya api meluas.
“Penyebab masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Namun dari beberapa saksi disebutkan dari rumah warga dari bagian kanan. Untuk identifikasi awal api dari arus pendek, tapi kita harus menunggu hasil resmi dari kepolisian. Bangunan dari data sementara ada 12 bangunan, itu dari dua gang, yaitu Gang Mawar dan Gang Ikhlas,” terang Herry.
Ketika asap mulai menipis, yang tersisa hanyalah puing-puing hitam yang masih membara. Data terakhir di lokasi kejadian mencatat sedikitnya 12 bangunan hangus, berdampak pada 15 Kepala Keluarga dengan total 79 jiwa yang kini kehilangan tempat tinggal.
Sore yang tenang itu kini menyisakan duka mendalam. Sebanyak 79 warga terpaksa mengungsi dan menumpang di rumah-rumah tetangga sekitar yang selamat dari amukan api, merajut asa di tengah puing-puing rumah mereka yang telah sirna. Red

Bagikan

Related Posts