Kab. Kutai KartanegaraNews

Jalur Poros Samarinda-Balikpapan KM 28 Batuah Amblas, Akses Utama Terancam Putus

Bagikan

Kutai Kartanegara, Solidaritas – Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dalam beberapa hari terakhir memicu kerusakan parah di jalur poros Samarinda-Balikpapan. Titik longsor yang berada di Kilometer 28, Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, kini dalam kondisi kritis dan terancam putus total pada Rabu (24/12/2025).

Pantauan di lapangan menunjukkan rekah tanah pada jalan menanjak sepanjang 100 meter tersebut kian melebar. Sebagian sisi jalan terpantau amblas hingga kedalaman satu meter. Sebagai langkah darurat, petugas telah menutupi area rekah dengan terpal berwarna oranye untuk mencegah air hujan masuk lebih dalam ke struktur tanah yang labil.

Peristiwa ini merupakan kali kedua longsor besar melanda titik yang sama. Sebelumnya, pada Februari 2025 lalu, longsor di lokasi ini telah menghancurkan belasan rumah warga. Kini, ancaman serupa kembali menghantui.

Sejumlah warga yang sebelumnya memilih bertahan, terpaksa kembali mengungsi karena khawatir akan adanya longsor susulan yang lebih besar.

“Kemarin sebenarnya masih rata, tapi pagi ini sudah terbuka lebar rekahannya. Kejadiannya mungkin subuh saat warga tidak sadar,” ujar Rusniwati, salah satu warga terdampak di lokasi kejadian.

Untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas, warga setempat berinisiatif melakukan sistem buka tutup jalan bagi kendaraan yang melintas. Hal ini dilakukan guna meminimalkan getaran kendaraan pada badan jalan yang kian rapuh, sekaligus mencegah kecelakaan.

Rahmat, seorang warga lainnya, mengungkapkan kekhawatirannya jika pemerintah tidak segera mengambil tindakan permanen.

“Kalau hujan terus-menerus dan tidak berhenti, dipastikan jalan ini akan putus lagi. Kami harap segera ada perbaikan darurat,” ungkapnya.

Hingga berita ini diturunkan, instansi terkait telah memasang tanda peringatan di sekitar lokasi bencana. Pengguna jalan dihimbau untuk ekstra waspada saat melintasi KM 28 Desa Batuah, terutama saat kondisi hujan lebat.

Warga juga menuntut kepastian dari pemerintah terkait rencana relokasi bagi puluhan kepala keluarga yang kehilangan tempat tinggal sejak bencana pertama bulan Februari lalu, agar mereka tidak terus dihantui ketakutan setiap kali hujan turun. Red


Bagikan

Related Posts