Samarinda, Solidaritas – Penyelidikan mendalam terkait kematian misterius seorang pelajar laki-laki berusia 14 tahun di Samarinda masih terus bergulir, di mana aparat kepolisian kini tengah menanti hasil forensik.
Setelah melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam korban di Kuburan Muslimin KM 4 Loa Janan, tim dokter forensik RSUD AW Sjahranie telah membawa sampel organ tubuh jenazah untuk dianalisis lebih lanjut di laboratorium. Pihak kepolisian, mengatakan hasil autopsi sangat krusial untuk memastikan penyebab pasti kematian korban. Hasil Autopsi baru akan diketahui hasil lengkapnya dalam waktu dua minggu ke depan.
Proses ekshumasi dan autopsi dilakukan di Kuburan Muslimin KM 4 Loa Janan, Kutai Kartanegara, pada Jumat (21/11/2025), sekitar pukul 08.45 WITA dan selesai pada pukul 11.15 menit.
Tim Inafis Polresta Samarinda dan tim dokter forensik dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Sjahranie Samarinda diterjunkan ke lokasi untuk memastikan penyebab pasti kematian bocah yang baru berusia 13 tahun tersebut.
Hadir memantau langsung proses tersebut Kapolresta Samarinda Kombes Pol Hendri Umar dan keluarga korban.
Korban diketahui meninggal dunia di rumahnya pada Senin dini hari (27/10/2025), setelah sehari sebelumnya mengeluh sakit pada ulu hatinya. Awalnya, kematian korban dianggap wajar dan jenazah langsung dimakamkan oleh keluarga.
Namun, kecurigaan muncul setelah beberapa rekan bermain korban mendatangi keluarga dan mengungkapkan bahwa korban sempat berkelahi dengan tetangganya sebelum meninggal. Informasi ini menjadi dasar bagi keluarga untuk mengajukan permohonan penyelidikan lebih lanjut.
Sudirman, Kuasa Hukum keluarga korban, menjelaskan kejanggalan yang dilihat pihak keluarga saat jenazah dikafankan.
“Awalnya itu pas dikafankan itu masih keluar cairan busa dari mulut, dan memang sama mata itu agak kelihatan lebam. Cuma kan tidak tahu secara pasti apa yang menyebabkan itu, tidak ada keterangan sama sekali. Nanti baru ada dari pihak teman-temannya itu yang kemudian itu menjadi dasar untuk menyusuri ini semua,” kata Sudirman.
Proses autopsi dipimpin oleh Dokter Forensik RSU AW Sjahranie, dr. Kristina Uli. Usai autopsi, tim forensik membawa beberapa sampel bagian dari organ tubuh jenazah untuk pemeriksaan lebih lanjut di laboratorium.
Dr. Kristina Uli menjelaskan bahwa kondisi tubuh korban yang telah membusuk membuat tim belum bisa memastikan secara kasat mata apakah ada tanda-tanda penganiayaan sebelum kematian.
“Ada beberapa sampelnya dibawa nanti untuk hasilnya juga menunggu, kemungkinan dua minggu ya. Sudah sebagian besar sudah lisis ya jaringan-jaringan lunaknya, tulang-tulang persendian pun banyak yang lepas karena memang proses pembusukan juga jadi sudah meregang juga seperti itulah,” jelas dr. Kristina.
Sementara itu Kasat Reskrim Polresta Samarinda AKP Agus Setyawan mengatakan autopsi ini penting untuk mengetahui secara pasti penyebab korban meninggal dunia.
“Untuk saksi yang melihat pada kejadian tersebut, ya, ada anak-anak yang teman dia bermain pada saat malam itu ada kejadian perkelahian. Jadi pada saat itu ada saksi temannya, yang mana pada kejadian tersebut anak-anak bermain game online,” kata AKP Agus Setyawan.
Hingga saat ini, pihak kepolisian telah meminta keterangan dari tujuh orang saksi, termasuk teman-teman korban yang berada di lokasi saat dugaan perkelahian terjadi.
Untuk mengungkap misteri kematian korban, pihak kepolisian kini masih menunggu hasil lengkap autopsi yang dilakukan tim dokter forensik RSUD AW Sjahranie Samarinda, yang diperkirakan akan keluar dalam dua minggu ke depan. Red








