Oleh : Eko Satrya
Secara umum Bontang terbagi 5 zona, yaitu : Kawasan Industri, Taman Nasional Kutai, Hutan Lindung, Pesisir dan Pemukiman.
Masing-masing kawasan tersebut memiliki potensi yang khas sesuai karateristik wilayah. Di wilayah industri terdapat pabrik/kilang yang beroperasi 24 jam.
Taman Nasional Kutai merupakan kawasan yang menjaga kelestarian beranekaragam hayati dan hewani. Hutan Lindung adalah kawasan yang berkaitan erat dengan fungsinya sebagai paru-paru dunia dan pelestarian alam.
Pesisir merupakan kawasan sepanjang tepi laut dari ujung perbatasan dengan Kabupaten Kutai Kartanegara sampai Kabupaten Kutai Timur.
Pemukiman adalah kawasan yang digunakan sebagai tempat tinggal oleh mayoritas masyarakat Bontang yang terlokalisir di wilayah Bontang Baru dan sekitarnya.
Dengan zona-zona dimaksud, maka potensi wilayahnya pun berbeda, seperti : zona Bontang Baru dan sekitarnya menjadi pusat perekonomian, kemudian zona pesisir yang mempunyai karateristik bahari memiliki potensi di sektor perikanan, jasa transportasi laut, bongkar muat dan wisata (hutan mangrove).
Sedangkan zona industri memberikan dampak Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sehingga masyarakat sekitarnya mendapatkan prioritas untuk pelayanan sosial dan pembangunan lingkungan.
Bagaimana dengan potensi kemaritiman Bontang???
dibutuhkan kebijakan Pemprov Kaltim untuk memberikan kewenangan kepada Pemkot Bontang dalam hal pembangunan, penataan dan pengelolaan kawasan maritim (laut) Bontang yang potensi pariwisatanya sangat besar.
Dengan karakteristik wilayah tersebut tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk di eksplor (gali), di ekspos (publikasi) dan di eksibisikan (atraksi), namun itu menjadi tantangan tersendiri dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengembangan kawasan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakatnya.
Hal itu disebabkan dengan disparitas penduduk yang tidak merata, sehingga dalam perencanaan dilakukan dengan pendekatan proporsional dan skala prioritas.
Kaitan itu MASATA mengusung program Gerakan Pembangunan Berdaya Industri dan Pariwisata (Gerbang Berinta) 2024.
Secara spesifik, program ini memberikan ruang yang luas kepada seluruh pemangku kepentingan baik di sektor industri maupun pariwisata yang di dalamnya ada UMKM dan Investasi sesuai visi misi Walikota/Wakil Walikota Bontang, Basri Rase – Hj Najirah, skala prioritas pembangunan yaitu Pariwisata, UMKM dan Investasi.
Program Gerbang Berinta ini mendorong semua komponen untuk berperan aktif dalam proses pembangunan daerah, dengan mengarah pada tiga sasaran strategis yakni pertumbuhan, pemerataan dan berkelanjutan.
Untuk itulah guna mencapai sasaran tersebut perlu dilakukan integrasi pembangunan sektoral dan kewilayahan, salah satu fokus kewilayahan dengan memperkuat peran kecamatan dalam mengakomodasi pembangunan sektoral secara komprehensif, sinergi dan kolaborasi dalam kerangka penyelesaian permasalahan pembangunan dalam skala kecamatan melalui pendekatan kearifan lokal yakni semangat Bessai Berinta (Mendayung Bersama).
Hal itu merupakan salah satu dedikasi Gerbang Berinta dengan maksud memperkuat nilai nilai kebersamaan, gotong royong, musyawarah mufakat dan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar atau kampung sendiri untuk bersinergi dan berkolaborasi dalam penyelenggaraan pembangunan. Selain itu inovasi terus dilakukan di berbagai sektor untuk meningkatkan pelayanan pada masyarakat.
Di Tahun 2024 ini, MASATA mengusulkan tema pembangunan Bontang “Sinergi dalam Aksi, Kolaborasi dalam Akselerasi”, yang dimaknai bahwa pembangunan membutuhkan aksi dan partisipasi semua pihak yang sinergi dengan mengoptimalkan segala sumber daya secara kolaborasi sehingga terwujud akselerasi.
Melalui proses sinergi dan kolaborasi akan menjadi penguatan pada sektor pariwisata, UMKM dan investasi sebagai penopang perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat yang lebih lestari.
Ketua DPC MASATA Kota Bontang









