Samarinda, Solidaritas – Fluktuasi harga bahan pokok di pasar sering kali membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak lebih keras. Menanggapi keresahan dapur tersebut, Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, melontarkan sebuah gagasan segar. Baginya, benteng utama dalam menghadapi terjangan inflasi global adalah dengan memperkuat ketahanan finansial dari unit terkecil, yaitu keluarga.
Bukan lewat program teoritis yang rumit, Iswandi mendorong sebuah langkah taktis yang langsung menyentuh piring makan masyarakat, memanfaatkan pekarangan rumah sebagai sumber pangan mandiri. Salah satu yang paling potensial adalah program bantuan peternakan ayam petelur skala mikro untuk rumah tangga.
Namun, Iswandi memberikan catatan kritis yang cukup menohok. Ia meminta dengan tegas agar instansi terkait tidak memberikan bantuan dalam bentuk anakan ayam (kuthuk) yang masih membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk tumbuh. Sebaliknya, pemerintah harus menyediakan ayam yang sudah matang dan siap berproduksi.
“Misalkan satu rumah diberi dua ekor ayam yang sudah siap bertelur, jadi jangan dari anakan lagi. Dengan begitu, otomatis ekonomi masyarakat terbantu karena lumayan bisa menghemat pengeluaran belanja Rp200 ribu hingga Rp300 ribu sebulan,” tutur Iswandi saat memberikan kalkulasi sederhana yang sangat masuk akal bagi kebutuhan mendasar warga.
Lebih lanjut, legislator Samarinda ini mengingatkan seluruh instansi pemerintahan agar membuang jauh-jauh ego pembuatan program seremonial. Menurutnya, sudah bukan zamannya lagi menghabiskan anggaran daerah yang besar hanya untuk acara seremonial gunting pita atau rapat-rapat hotel yang miskin dampak nyata bagi rakyat bawah.
Pihak parlemen berkomitmen akan mengawal ketat setiap rupiah di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tujuannya satu: memastikan stimulus keuangan tersebut benar-benar mengalir langsung ke dapur-dapur masyarakat, bukan habis di atas meja rapat.
Melalui kolaborasi hijau yang sedang digodok ini, pekarangan rumah di Samarinda diharapkan tidak lagi sekadar menjadi hiasan estetika sudut hunian. Lebih dari itu, sejengkal tanah di samping rumah akan bertransformasi menjadi lumbung pangan mandiri yang ramah lingkungan—sekaligus menjadi pahlawan penyelamat isi dompet keluarga di masa sulit.
Sementara itu Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Samarinda, Muhammad Darham, menangkap betul tingginya gairah warga terhadap pertanian perkotaan belakangan ini. Antusiasme masyarakat menanam hidroponik secara mandiri begitu tinggi, namun sering kali terbentur oleh modal awal. Di sinilah pemerintah hadir mengambil peran.
“Biaya hidroponik ini sebenarnya tidak terlalu mahal, dan warga kami sudah sangat siap. Kami berharap dukungan dana aspirasi dari para anggota dewan bisa menjadi stimulus modal bagi mereka,” ujar Darham penuh optimisti.
Tak hanya sayur-mayur, instansinya juga menyiapkan terobosan baru berupa peternakan ayam petelur skala mandiri. Langkah taktis ini diambil langsung demi menjawab riak permintaan masyarakat di lapangan yang rindu akan kemandirian pangan di tingkat rumah tangga. Adv








