Samarinda, Dalam upaya mewujudkan salah satu dari sepuluh program unggulan Wali Kota Samarinda saat ini Dinas Perhubungan Kota Samarinda lakukan pemaparan laporan akhir penyusunan dokumen pra study kelayakan jaringan jalur rel kereta api dalam Kota Samarinda, pada Senin (18/7/2023).
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, mengungkapkan bahwa rencana pembangunan kereta api dalam kota masih memerlukan kajian lebih lanjut. Meskipun secara finansial dianggap tidak layak, Manalu menekankan bahwa secara ekonomi proyek ini sangat berpotensi.
Menurutnya, tahapan kajian mendalam mencakup pra studi kelayakan (Pra FS), survei investigasi design (SID), desain engineering detail (DED), dan analisis dampak lingkungan (AMDAL).
“Prediksi anggaran pra FS sekitar Rp 2 triliun dengan waktu pelaksanaan kurang lebih 8 bulan,” ungkap Manalu.
Setelah melewati tahap pra FS, Dishub Kota Samarinda akan melakukan studi lebih lanjut, yang membutuhkan persetujuan dari Dirjen Perkeretaapian berdasarkan rekomendasi Gubernur Kalimantan Timur dan SK penetapan trayek oleh Wali Kota Samarinda.
“Proyek diperkirakan baru dioperasikan pada tahun 2031 karena banyak tahapan yang akan dilakukan,” tambahnya.
Dalam mempertimbangkan sistem jalur, pilihan antara monorel dan jalur elevated dibahas, dengan hasil analisis menunjukkan bahwa jalur elevated terlihat tidak ekonomis.
Meskipun demikian, Dishub Kota Samarinda tetap berupaya memastikan kelayakan finansial proyek, termasuk memanfaatkan potensi wisata di Kota Tepian melalui proyek pembangunan kereta api.
“Rencana ini akan terus berjalan, dan anggaran Studi Kelayakan (FS) pada APBD 2024 diperkirakan mencapai sekitar Rp 1,5 triliun,”bebernya.
Sementara itu, Didi Zulyani menambahkan bahwa dari 5 alternatif yang ditawarkan, alternatif ke-5 dari arah tepian Loa Buah ke tepian Mahakam, lalu menuju ke Pasar Pagi dan langsung ke arah Bandara, dinilai paling tinggi dari segi ekonomi dan kelayakan lainnya.
“Meskipun sudah ada alternatif terpilih, tidak menutup kemungkinan adanya alternatif lain di masa depan. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan ekonomi dan dapat direkomendasikan setelah penilaian lebih lanjut,”ujarnya.
Pihak terkait akan terus mengevaluasi dan memantau perkembangan proyek, mengingat kemungkinan adanya tumpang tindih studi berikutnya. Jenis kereta yang lebih layak akan direkomendasikan setelah evaluasi lebih lanjut, dengan perhitungan yang lebih jelas di masa mendatang.
“Sebagai upaya memastikan keberlanjutan proyek, keseimbangan antara aspek finansial dan ekonomi harus tetap terjaga, termasuk dalam kemungkinan melibatkan PT Kereta Api Indonesia atau skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha,”ucapnya.
Dengan berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan, termasuk pemukiman yang dilalui dan potensi wisata, proyek ini menciptakan harapan baru bagi perkembangan Kota Samarinda, meskipun tantangan finansial masih menjadi sorotan utama. (Pia)









