Samarinda, Solidaritas – Sebuah perubahan besar tidak pernah terjadi dalam semalam. Begitu pula dengan perjalanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Di Kota Samarinda, program berskala raksasa ini diakui masih berada dalam fase adaptasi, sebuah proses pencarian bentuk terbaik yang memerlukan penyempurnaan di sana-sini.
Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah yang ditemui di kantornya mengajak masyarakat untuk melihat dinamika program MBG dengan kacamata yang lebih luas. Baginya, riak dan tantangan yang muncul di lapangan adalah hal yang lumrah untuk sebuah kebijakan baru.
Politisi partai Gerindra ini, mencoba membandingkannya dengan program serupa di belahan dunia lain yang membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk mencapai titik mapan.
“Program ini baru dua tahun. Di Amerika sudah 100 tahun, di Cina hampir 75 tahun. Apakah ada masalah? Ya ada. Apalagi ini baru dua tahun,” tutur Helmi memberikan perspektif perbandingan.
Hal yang paling krusial lanjutnya, bukanlah meratapi kekurangan, melainkan menjaga komitmen untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Tujuannya satu, agar esensi utama dari program ini yaitu peningkatan gizi anak bangsa bisa benar-benar dirasakan manfaatnya secara nyata oleh para siswa.
Helmi menekankan bahwa setiap kasus memiliki anatomi masalah yang berbeda. Ia memberikan sebuah analogi sederhana tentang kompleksitas di lapangan, bayangkan sebuah dapur katering yang memasok makanan untuk sepuluh sekolah berbeda. Jika terjadi masalah, belum tentu seluruh sekolah mengalami dampak yang sama.
“Misalnya ada dapur yang akan memberikan pembagian makanannya kepada 10 sekolah, tapi yang keracunan satu sekolah, yang sembilan tidak. Ada apa itu? Nah, itu yang tidak diketahui,” ujarnya logis.
Meski begitu, Helmi menegaskan bahwa laporan sekecil apa pun terkait keselamatan konsumsi siswa tidak boleh dianggap angin lalu. Kejadian-kejadian ini harus menjadi momentum krusial bagi penyelenggara untuk memperketat standar operasional prosedur (SOP) dan menaikkan level pengawasan kualitas makanan.
Helmi menegaskan bahwa pemerintah tidak antikritik. Ia justru sangat terbuka terhadap setiap suara dan keluhan yang disuarakan oleh masyarakat di lapangan. Bagi penyelenggara negara, suara publik adalah cermin jernih untuk melihat berbagai kekurangan tersembunyi yang mungkin luput dari pandangan mata pemerintah.
Namun, ia menitipkan sebuah pesan mendalam. Harapannya, setiap kritik yang dilayangkan harus disertai dengan masukan yang konstruktif, bukan sekadar menghakimi atau membangun sentimen negatif tanpa melihat kompleksitas persoalan secara utuh.
“Saya sepakat kalau kritik tetap diperlukan. Enggak apa-apa kritik, silakan, tapi kritik membangun,” tegas Helmi.
Helmi berharap proses evaluasi total dapat menyentuh setiap lini pelaksanaan dari hulu hingga ke hilir agar sengkarut masalah teknis di lapangan bisa segera terurai. Baginya, urusan perut dan kesehatan anak-anak tidak boleh main-main, dan pengawasannya jauh lebih kompleks dari sekadar apa yang tersaji di piring.
“Pemeriksaan tidak cukup hanya melihat asal makanan, tetapi juga perlu memperhatikan proses pengiriman, penyimpanan, hingga waktu konsumsi,” pungkasnya mengakhiri obrolan.
Pada akhirnya, di atas meja-meja kayu ruang kelas, setiap porsi makanan bergizi yang tersaji adalah wujud nyata investasi masa depan untuk generasi yang lebih sehat. Di balik setiap tantangan dan evaluasi hari ini, Samarinda sedang menempuh proses belajar yang berharga demi memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Adv









